Review Pentas Meilankolia: Kerumunan yang Meramaikan Sepi (Septian Saputra)
Semarang - Minggu (24/5) Diskusi asyik malam itu diakhiri dengan rintik hujan yang perlahan semakin ramai. Tak mau kalah, halaman kantor Dekase pun ramai dipenuhi pengunjung. Termasuk dalam rangkaian perayaan Hari Teater Sedunia malam itu, sajian pentas Meilankolia racikan kolektif Meramu: Dapur Pertunjukan menjadi hidangan yang paling dinantikan. Terkhusus aku dan anak-anak Emka lain, semakin semangat menonton pentas ini karena tiga dari lima aktornya adalah anggota Emka.
Terpatri dalam judulnya, pentas ini menjunjung isu Tragedi Mei 1998, menaruh fokus pada pemerkosaan massal perempuan etnis tionghoa. Meramu: Dapur Pertunjukan memang kerap membawakan wacana ini. Pentas ini nantinya akan ditampilkan dua kali. Ini kali pertama, di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang; dan yang kedua akan ditampilkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berturut sehari setelah yang pertama.
Melihat sekilas tata panggung, hampir dapat disimpulkan bahwa sutradara Nila Dianti mengusung teater non-konvensional. Hanya ada dua kursi, satu buah sapu, dan lembar-lembar teks berserakan di lantai. Benar saja, saat lampu dimatikan, di hadapan penonton adalah visualisasi sayur pare hijau segar dan bunga kecombrang merah kusut (aku baru tahu ini namanya rujak pare, membahasnya dan sejarahnya di Semarang mungkin akan menghabiskan satu essai sendiri), saling bergantian keluar dari pancaran proyektor. Pancaran sinar remang-remang ini menjadi satu-satunya pencahayaan yang digunakan, tidak menghitung cahaya rembulan yang ditutupi awan hitam. Menghantam tubuh aktor langsung dari depan selevel dada, tata cahaya ini menghasilkan siluet-siluet tajam serta visual yang kontras. Membangun hawa gelap dan mencekam. Suasana ini yang nantinya konsisten dimainkan sepanjang pertunjukan.
Awal pertunjukan, keempat tokoh perempuan yang diperankan oleh Avril, Nafisa, Najla, dan Susan; terlihat melakukan kegiatan sehari-hari dengan mood dan ekspresi masing-masing yang unik. Ada yang menyapu, menggambar, merangkai bunga juga jurnal. Suara tangisan mulai terdengar lirih, begitu lirih sampai hujan Mei dapat menyapunya hilang kapan saja. Kesamar-samaran suara ini membumbui pentas hingga akhir, menambah lapisan kesedihan. Merupakan keputusan yang cerdas membuat ilustrasi ini sukar didengar. Simbolisasi tidak hanya dilakukan melalui visual, tetapi juga lewat suara, bagaimana tangisan-tangisan korban ada namun yang dimintai tolong menutup telinga. Pemilihan bentuk panggung tapal kuda juga memperkuat efek hopelessness, membuat seolah-olah kita penonton mengerumuni kesunyian keempat aktor di panggung.
Mengangkat wacana yang begitu berat, tak ayal pentas ini kental akan elemen Brechtian. Tanpa basa-basi, keempat aktor membacakan catatan-catatan kekejaman yang dialami para korban. Bukan deklamasi ataupun dramatic reading, yang ada hanyalah informasi pahit dan gamblang. Fakta-fakta pahit yang kita sukar menerimanya. Saat-saat di mana kemanusiaan hilang digantikan dengan kebuasan nirmoral. Aku bergidik ngeri dibuatnya. Aksi para aktor juga punya andil besar mengemukakan statement ini. Mereka menggerakkan tubuh mereka penuh empati dengan gaya yang sureal, yang aku tangkap sebagai perwujudan emosi primordial: ketakutan, keputusasaan, kesedihan, amarah, sampai kehampaan. Kedua kursi menjadi elemen penting sebagai media naratif. Performa aktor berhasil memanfaatkan properti simpel ini untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Tak kalah penting, bagian akhir pentas di mana karakter pria (Nazih) masuk. Diksi yang dipilih serta delivery-nya menjadi tamparan keras. Menutup pentas dengan kejutan yang berkesan.
Kesukaran adalah satu kata yang aku dapatkan dari menonton pentas ini. Memang tujuannya bukanlah hiburan sederhana. Yang dibawakan adalah topik pahit, yang enggan kita terima, dan pentas berhasil memerangkap penonton dalam kesukaran itu. Sayangnya, pesan-pesan yang disampaikan teredam oleh vokal aktor yang kalah oleh suara hujan. Beberapa kali aku harus memajukan muka dan mengernyitkan mata memikirkan kata-kata apa yang barusan aku tangkap. Selain itu, terdapat inkonsistensi dalam ekspresi wajah yang ingin ditampilkan para aktor. Mimik wajah Nafisa dan Susan menurutku kurang ekspresif, kontras dengan kedua aktor perempuan lain yang luwes memainkan ekspresi mereka. Pun ke-kurangekspresif-an mereka juga berbeda. Susan menunjukkan wajah penuh kekosongan yang hampa, masih seirama dengan suasana pentas. Namun, Nafisa lebih kelihatan seperti orang bingung. Kikuk, seperti orang yang tak tahu ia di mana. Mungkin saja ini intensional, tetapi menurutku keputusan ini kurang cocok dengan warna pentas yang dibawakan.
Secara menyeluruh, pentas ini sukses besar menyampaikan maksudnya, juga memantik diskursus, ditandai dengan diskusi pascapentas yang sangat aktif. Cara-cara baru dalam mengekspresikan pesan juga kudapatkan, memperkaya khazanah keteateranku pribadi.

0 komentar