Teater, Simbol Demokrasi dan Anti-Opresi

by - Juni 11, 2026

 


TEATER, SIMBOL DEMOKRASI DAN ANTI-OPRESI

Oleh Fahmi Almiqdad Viratama

 

Teater menjadi sebuah media seni yang jarang dibahas dibandingkan jenis kesenian lainnya, seperti musik, visual, tari, dan film. Teater cenderung memiliki penggemar yang segmented, hanya segelintir penonton yang menikmati teater, sisanya lebih memiliki jenis media seni lainnya, bahkan ada yang sama sekali belum pernah menonton pertunjukan drama secara langsung, baik teater kontemporer ataupun teater lokal seperti ketoprak, wayang orang, dsb.

Namun, melihat sejarah dan perkembangannya, teater sesungguhnya bukan hanya sarana hiburan atau pertunjukan artistik. Teater merupakan ruang dialog yang melatih masyarakat untuk memahami perspektif yang berbeda, mengkritik ketidakadilan, dan membayangkan perubahan sosial. Karena itu, teater dapat dipahami sebagai simbol demokrasi sekaligus alat perlawanan terhadap berbagai bentuk opresi.

Kesenian teater memiliki peran yang sama seperti jenis seni lainnya, yaitu menyampaikan pesan. Teater sendiri memiliki sejarah panjang dalam politik, tepatnya, teater lahir di tempat dan era yang sama dengan demokrasi. Di sebuah city-state bernama Athens, 2500 tahun yang lalu, keduanya lahir. Seorang sastrawan dan teaterawan bernama Oscar Eustis menyampaikan hal ini dalam TedTalk dengan judul “Why  theater is essensial to democracy | Oskar Eustis”. Ia berkata bahwa, di Athens, ketika ada kesadaran bahwa kekuasaan harus memikirkan orang yang dikuasai, mereka membangun sebuah dialog, membuka perspektif dari orang yang dikuasai.

Dialog digunakan untuk memahami perspektif satu sama lain, tapi dalam dialog pada arti percakapan langsung, kita punya kesadaran bahwa kita dalam posisi memegang kebenaran. Bagaimana jika kita tidak ada dalam posisi memegang kebenaran, tapi masih menceritakan perspektif kita dengan penuh? Eustis mengatakan bahwa ketika kita menonton teater, tokoh akan sepenuhnya menceritakan perspektifnya, memiliki opini dan argumennya. Ditambah adanya karakter lain, dengan opini dan logikanya sendiri, mereka saling berdebat dan membuat sebuah konflik, yang nantinya, dalam struktur cerita, menghasilkan sebuah resolusi.

                     Ketika membahas teater, kita sering terfokus pada bagaimana aktor dalam panggung memerankan cerita atas visi sutradara yang sudah didiskusikan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Penyuguhan drama ditunjukkan agar penonton dapat dengan santai menikmati cerita, menerima pesan secara pasif dari pementasan. Sejak zaman Shakespears, Bertolt Brecht, dan Anton Chekov, teater selalu ditujukan untuk mengkritik, media kritik masyarakat dan pemerintah.

Judul-judul pementasan seperti Mother Courage dan Arturo Ui karya Brecht selalu berfokus pada politik, mengkritik keras kekerasan dan penindasan. Namun hal ini kemudian dibawa serius oleh seorang teaterawan Brazil, Augusto Boal. Boal hidup dalam zaman rezim militer Brazil di tahun 70-an, hal ini membuat ia bersuara lewat sebuah konsep teater yang revolusioner, ia menyebutnya sebagai Theater of Oppressed. Semenjak ia bekerja di Teatro de Arena (Theater Arena) di Rio de Janeiro, ia membuat karya-karya yang mengkritik pemerintah serta aktivisme, sehingga membuat ia diasingkan ke Argentina dan Chile, lalu melalangbuana ke Eropa. Di sana, ia mengembangkan metodologi konsep Theatre of Oppressed-nya, dan mempraktekan evolusi terakhirnya di Gordano, Italia.

           Dalam Theatre of Oppressed-nya, ia mengambil konsep dari Paulo Freire, yaitu Pedagogy of Oppressed. Konsepnya adalah membuat analisis bahwa pendidikan untuk orang tertindas, di Brazil, pendidikan formal hanya untuk orang kaya dan sering menjadi alat untuk menindas orang. Freire menganggap bahwa pendidikan memiliki sifat conscientizacao yang bisa diterjemahkan sebagai “kesadaran kritis”. Pendidikan wajib memberikan kemampuan untuk mengintervensi realita dan mengubahnya secara langsung. Freire percaya bahwa pendidikan tidak seperti guru yang mengisi kekosongan ilmu murid-muridnya, tapi lebih memilih untuk saling berdiskusi, membuat ruang setara terhadap kedua belah pihak.

           Kesadaran mengenai pendidikan seharusnya dapat mengintervensi realitas membuat Boal terinspirasi dan mengaplikasikannya dalam Theatre of Oppressed-nya. Di dalam prakteknya, Theatre of Oppressed mencoba menentang bahwa hanya aktor yang aktif dan penonton dibiarkan pasif, Boal mencoba mengajak penonton untuk ikut terlibat dalam pementasan, penonton bertindak untuk ikut bermain, bertindak, dan mencari solusi, ini yang disebut sebagai Spect-Actor.

           Bagi saya, Spect-Actor adalah cara manusia untuk bisa benar-benar mempraktekan empati mereka. Penonton yang sudah diberi pengantar dari cerita, memahami konflik dan opresi yang terjadi di panggung. Jika cerita dan pembawaannya bagus, serta penonton mampu memahami itu dengan baik, maka mereka akan benar-benar paham apa reaksi yang harus mereka berikan. Dalam dunia nyata, konflik-konflik yang muncul seringkali tidak terselesaikan hanya karena banyak yang tidak tahu tentang apa yang benar-benar terjadi, serta tidak bisa memosisikan pada kedua belah pihak, sehingga tidak selalu memunculkan pantikan empati, apalagi keberanian untuk mengintervensi.

Sejarah panjang teater dari zaman Athens, hingga masa Victorian seperti Shakespears, lalu ada Brecht, Stanislavski, dan Boal. Mereka selalu membuat perkembangan, dari dunia keaktoran, memahami tubuh, serta juga bagaimana setiap naskah, setiap karakter memiliki kedalaman perasaan, sifat, dan identitas yang mewakili kelompok manusia. Dialog dan konflik antar tokoh di panggung menggambarkan realitas, membuat penonton merasa empati terhadap tokoh-tokoh ini, ditambah dengan konsep Theatre of Oppressed dari Boal yang mendorong penonton supaya lebih aktif dan paham terhadap opresi yang terjadi.

 

 

Sumber:

Boal, August. 2003. Games for Actor and Non-Actor, Routladge:London

TED. 25 Juni 2018. Why Theater is Essensial to Democracy | Oskar Eustis [video]. YouTube. https://youtu.be/5foou7mIA0w?si=7uWkol5Hi9WC036A

You May Also Like

0 komentar