Teater, Simbol Demokrasi dan Anti-Opresi
TEATER, SIMBOL DEMOKRASI DAN ANTI-OPRESI
Oleh Fahmi Almiqdad Viratama
Teater
menjadi sebuah media seni yang jarang dibahas dibandingkan jenis kesenian
lainnya, seperti musik, visual, tari, dan film. Teater cenderung memiliki
penggemar yang segmented, hanya segelintir penonton yang menikmati
teater, sisanya lebih memiliki jenis media seni lainnya, bahkan ada yang sama
sekali belum pernah menonton pertunjukan drama secara langsung, baik teater
kontemporer ataupun teater lokal seperti ketoprak, wayang orang, dsb.
Namun, melihat sejarah dan perkembangannya, teater
sesungguhnya bukan hanya sarana hiburan atau pertunjukan artistik. Teater
merupakan ruang dialog yang melatih masyarakat untuk memahami perspektif yang
berbeda, mengkritik ketidakadilan, dan membayangkan perubahan sosial. Karena
itu, teater dapat dipahami sebagai simbol demokrasi sekaligus alat perlawanan
terhadap berbagai bentuk opresi.
Kesenian
teater memiliki peran yang sama seperti jenis seni lainnya, yaitu menyampaikan
pesan. Teater sendiri memiliki sejarah panjang dalam politik, tepatnya, teater
lahir di tempat dan era yang sama dengan demokrasi. Di sebuah city-state
bernama Athens, 2500 tahun yang lalu, keduanya lahir. Seorang sastrawan dan
teaterawan bernama Oscar Eustis menyampaikan hal ini dalam TedTalk dengan judul
“Why theater is essensial to democracy |
Oskar Eustis”. Ia berkata bahwa, di Athens, ketika ada kesadaran bahwa kekuasaan
harus memikirkan orang yang dikuasai, mereka membangun sebuah dialog, membuka
perspektif dari orang yang dikuasai.
Dialog
digunakan untuk memahami perspektif satu sama lain, tapi dalam dialog pada arti
percakapan langsung, kita punya kesadaran bahwa kita dalam posisi memegang
kebenaran. Bagaimana jika kita tidak ada dalam posisi memegang kebenaran, tapi
masih menceritakan perspektif kita dengan penuh? Eustis mengatakan bahwa ketika
kita menonton teater, tokoh akan sepenuhnya menceritakan perspektifnya,
memiliki opini dan argumennya. Ditambah adanya karakter lain, dengan opini dan
logikanya sendiri, mereka saling berdebat dan membuat sebuah konflik, yang
nantinya, dalam struktur cerita, menghasilkan sebuah resolusi.
Ketika membahas teater, kita sering terfokus
pada bagaimana aktor dalam panggung memerankan cerita atas visi sutradara yang
sudah didiskusikan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Penyuguhan drama
ditunjukkan agar penonton dapat dengan santai menikmati cerita, menerima pesan
secara pasif dari pementasan. Sejak zaman Shakespears, Bertolt Brecht, dan
Anton Chekov, teater selalu ditujukan untuk mengkritik, media kritik masyarakat
dan pemerintah.
Judul-judul
pementasan seperti Mother Courage dan Arturo Ui karya Brecht
selalu berfokus pada politik, mengkritik keras kekerasan dan penindasan. Namun
hal ini kemudian dibawa serius oleh seorang teaterawan Brazil, Augusto Boal.
Boal hidup dalam zaman rezim militer Brazil di tahun 70-an, hal ini membuat ia
bersuara lewat sebuah konsep teater yang revolusioner, ia menyebutnya sebagai Theater
of Oppressed. Semenjak ia bekerja di Teatro de Arena (Theater Arena) di Rio de
Janeiro, ia membuat karya-karya yang mengkritik pemerintah serta aktivisme,
sehingga membuat ia diasingkan ke Argentina dan Chile, lalu melalangbuana ke
Eropa. Di sana, ia mengembangkan metodologi konsep Theatre of Oppressed-nya,
dan mempraktekan evolusi terakhirnya di Gordano, Italia.
Dalam Theatre of
Oppressed-nya, ia mengambil konsep dari Paulo Freire, yaitu Pedagogy of
Oppressed. Konsepnya adalah membuat analisis bahwa pendidikan untuk orang
tertindas, di Brazil, pendidikan formal hanya untuk orang kaya dan sering
menjadi alat untuk menindas orang. Freire menganggap bahwa pendidikan memiliki
sifat conscientizacao yang bisa diterjemahkan sebagai “kesadaran
kritis”. Pendidikan wajib memberikan kemampuan untuk mengintervensi realita dan
mengubahnya secara langsung. Freire percaya bahwa pendidikan tidak seperti guru
yang mengisi kekosongan ilmu murid-muridnya, tapi lebih memilih untuk saling
berdiskusi, membuat ruang setara terhadap kedua belah pihak.
Kesadaran mengenai
pendidikan seharusnya dapat mengintervensi realitas membuat Boal terinspirasi
dan mengaplikasikannya dalam Theatre of Oppressed-nya. Di dalam prakteknya,
Theatre of Oppressed mencoba menentang bahwa hanya aktor yang aktif dan
penonton dibiarkan pasif, Boal mencoba mengajak penonton untuk ikut terlibat
dalam pementasan, penonton bertindak untuk ikut bermain, bertindak, dan mencari
solusi, ini yang disebut sebagai Spect-Actor.
Bagi saya, Spect-Actor
adalah cara manusia untuk bisa benar-benar mempraktekan empati mereka. Penonton
yang sudah diberi pengantar dari cerita, memahami konflik dan opresi yang
terjadi di panggung. Jika cerita dan pembawaannya bagus, serta penonton mampu
memahami itu dengan baik, maka mereka akan benar-benar paham apa reaksi yang harus
mereka berikan. Dalam dunia nyata, konflik-konflik yang muncul seringkali tidak
terselesaikan hanya karena banyak yang tidak tahu tentang apa yang benar-benar
terjadi, serta tidak bisa memosisikan pada kedua belah pihak, sehingga tidak
selalu memunculkan pantikan empati, apalagi keberanian untuk mengintervensi.
Sejarah
panjang teater dari zaman Athens, hingga masa Victorian seperti Shakespears,
lalu ada Brecht, Stanislavski, dan Boal. Mereka selalu membuat perkembangan, dari
dunia keaktoran, memahami tubuh, serta juga bagaimana setiap naskah, setiap
karakter memiliki kedalaman perasaan, sifat, dan identitas yang mewakili
kelompok manusia. Dialog dan konflik antar tokoh di panggung menggambarkan
realitas, membuat penonton merasa empati terhadap tokoh-tokoh ini, ditambah
dengan konsep Theatre of Oppressed dari Boal yang mendorong penonton supaya
lebih aktif dan paham terhadap opresi yang terjadi.
Sumber:
Boal,
August. 2003. Games for Actor and Non-Actor, Routladge:London
TED. 25
Juni 2018. Why Theater is Essensial to Democracy | Oskar Eustis [video].
YouTube. https://youtu.be/5foou7mIA0w?si=7uWkol5Hi9WC036A


0 komentar