PELACUR DAN PENDENDAM
Sebuah percakapan tidak masuk akal hadir dalam kemelut pikiran. Jarum
jam menunjukkan kami arah bulan diatas, menegur Si Pelacur dan Si Pendendam. Langkah
arah pembicaraan mereka begitu radikal, menuju sebuah kabut hitam tak bernama,
bisa jadi asap sampah, bisa jadi Wedhus Gembel, tapi nafas ku terus tetap
memanjang hingga saat ini. Menuju Puncak Benteng Willem I, aku baru saja
membunuh sesuatu, hal yang lebih berharga dari nurani manusia yang
menghangatkan, aku membunuh alasan, equilibrium dunia, pemutar tangis dan tawa.
Cinta.
Moncong
senjata yang ampuh mengirim kembali kejahatan ke neraka, kini di tuduh menjadi
tersangka utama atas kematian Spirit dan Hakikat jiwa seorang pria. Mata ku tak
henti hentinya melihat darah yang ku keluarkan dengan sengaja, darah milik
seseorang yang paling membutuhkannya untuk terus menggaungkan kebenaran di
tengah kekeliruan sistem sosial.
Pengakuan.
Sebuah ruang sidang sedang melaksanakan penghakiman akbar. Semua mata
tertuju pada sang penjahat yang selama hidupnya berhasil lolos dari balasan,
Tojo mungkin tidak sudi melihat bagaimana aku dengan nyenyaknya meninggalkan kehancuran
dan kiamat, sementara sang Cthulhu terombang-ambing dalam lautan gelap.
Itulah penghakiman, seadil-adilnya. Sang Rabun diberikan lensa untuk
melihat goretan-goretan yang tanpa sadar ia ciptakan, seperti aku, kematian
begitu dekat ketika mulutku bersaksi di depan Pelacur.
Prosa oleh Faqih
Heaven that should've matter
When the cloud begin darken, I started mutter
“Tuesday wasn’t friend of mine, they’re a hater”
A bell ringin, it’s a comrade named Chester
Whispering me a disaster
Not so long, come a news from radio broadcaster.
A flood about to coming, overflowing all the gutter.
No one seen a Mayor, damn they’re a sucker.
A woman came, her pretty eyes seem unbothered.
Chatting for a while, then ask a chef for a Beef Platter
She prefer a seafood, then order a Oyster.
What a polite and sweet talking, she keep calling me “mister”.
We talk a lot, not knowing its been an hours.
She’s kind of cute, owned a pet otter named Roger.
It’s a lovely night, better than other.
To bad, something bothered her.
It’s a call from her sister
She worried, cause its all she mattered.
Rushing out from the dinner,
Before that, she tell me a treasure.
A wonderfull sentence, “my name is Ester”.
Faqih 15/3/26
Bonnie’s Grave
A Tall bearded gentleman sit
beside of me,
With opened hand, a firm
handshake, he’s no one enemy.
We traded a few sentence, until
he dropped a tear.
He confesed “My mind wasn’t very clear.”
Telling he done a sin.
Used to be drunker, always making
a scene.
Drink night til day, until his
wallet went dry
Recklessly living, until one
evening, someone died.
Blood covering his hand, a red
from someone he love more than any.
Her name engraved in tomb, a
lovely lady, “Bonnie”.
Faqih 15/3/26



