• Home
  • Menilik Teater Emka
  • Contact
    • Facebook
    • Instagram
    • twitter
xx xx x Email

Teater Emka

 

Semarang - Minggu (24/5) Diskusi asyik malam itu diakhiri dengan rintik hujan yang perlahan semakin ramai. Tak mau kalah, halaman kantor Dekase pun ramai dipenuhi pengunjung. Termasuk dalam rangkaian perayaan Hari Teater Sedunia malam itu, sajian pentas Meilankolia racikan kolektif Meramu: Dapur Pertunjukan menjadi hidangan yang paling dinantikan. Terkhusus aku dan anak-anak Emka lain, semakin semangat menonton pentas ini karena tiga dari lima aktornya adalah anggota Emka.

Terpatri dalam judulnya, pentas ini menjunjung isu Tragedi Mei 1998, menaruh fokus pada pemerkosaan massal perempuan etnis tionghoa. Meramu: Dapur Pertunjukan memang kerap membawakan wacana ini. Pentas ini nantinya akan ditampilkan dua kali. Ini kali pertama, di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang; dan yang kedua akan ditampilkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berturut sehari setelah yang pertama. 

Melihat sekilas tata panggung, hampir dapat disimpulkan bahwa sutradara Nila Dianti mengusung teater non-konvensional. Hanya ada dua kursi, satu buah sapu, dan lembar-lembar teks berserakan di lantai. Benar saja, saat lampu dimatikan, di hadapan penonton adalah visualisasi sayur pare hijau segar dan bunga kecombrang merah kusut (aku baru tahu ini namanya rujak pare, membahasnya dan sejarahnya di Semarang mungkin akan menghabiskan satu essai sendiri), saling bergantian keluar dari pancaran proyektor. Pancaran sinar remang-remang ini menjadi satu-satunya pencahayaan yang digunakan, tidak menghitung cahaya rembulan yang ditutupi awan hitam. Menghantam tubuh aktor langsung dari depan selevel dada, tata cahaya ini menghasilkan siluet-siluet tajam serta visual yang kontras. Membangun hawa gelap dan mencekam. Suasana ini yang nantinya konsisten dimainkan sepanjang pertunjukan.

Awal pertunjukan, keempat tokoh perempuan yang diperankan oleh Avril, Nafisa, Najla, dan Susan; terlihat melakukan kegiatan sehari-hari dengan mood dan ekspresi masing-masing yang unik. Ada yang menyapu, menggambar, merangkai bunga juga jurnal. Suara tangisan mulai terdengar lirih, begitu lirih sampai hujan Mei dapat menyapunya hilang kapan saja. Kesamar-samaran suara ini membumbui pentas hingga akhir, menambah lapisan kesedihan. Merupakan keputusan yang cerdas membuat ilustrasi ini sukar didengar. Simbolisasi tidak hanya dilakukan melalui visual, tetapi juga lewat suara, bagaimana tangisan-tangisan korban ada namun yang dimintai tolong menutup telinga. Pemilihan bentuk panggung tapal kuda juga memperkuat efek hopelessness, membuat seolah-olah kita penonton mengerumuni kesunyian keempat aktor di panggung.

Mengangkat wacana yang begitu berat, tak ayal pentas ini kental akan elemen Brechtian. Tanpa basa-basi, keempat aktor membacakan catatan-catatan kekejaman yang dialami para korban. Bukan deklamasi ataupun dramatic reading, yang ada hanyalah informasi pahit dan gamblang. Fakta-fakta pahit  yang kita sukar menerimanya. Saat-saat di mana kemanusiaan hilang digantikan dengan kebuasan nirmoral. Aku bergidik ngeri dibuatnya. Aksi para aktor juga punya andil besar mengemukakan statement ini. Mereka menggerakkan tubuh mereka penuh empati dengan gaya yang sureal, yang aku tangkap sebagai perwujudan emosi primordial: ketakutan, keputusasaan, kesedihan, amarah, sampai kehampaan. Kedua kursi menjadi elemen penting sebagai media naratif. Performa aktor berhasil memanfaatkan properti simpel ini untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Tak kalah penting, bagian akhir pentas di mana karakter pria (Nazih) masuk. Diksi yang dipilih serta delivery-nya menjadi tamparan keras. Menutup pentas dengan kejutan yang berkesan.

Kesukaran adalah satu kata yang aku dapatkan dari menonton pentas ini. Memang tujuannya bukanlah hiburan sederhana. Yang dibawakan adalah topik pahit, yang  enggan kita terima, dan pentas berhasil memerangkap penonton dalam kesukaran itu. Sayangnya, pesan-pesan yang disampaikan teredam oleh vokal aktor yang kalah oleh suara hujan. Beberapa kali aku harus memajukan muka  dan mengernyitkan mata memikirkan kata-kata apa yang barusan aku tangkap. Selain itu, terdapat inkonsistensi dalam ekspresi wajah yang ingin ditampilkan para aktor. Mimik wajah Nafisa dan Susan menurutku kurang ekspresif, kontras dengan kedua aktor perempuan lain yang luwes memainkan ekspresi mereka. Pun ke-kurangekspresif-an mereka juga berbeda. Susan menunjukkan wajah penuh kekosongan yang hampa, masih seirama dengan suasana pentas. Namun, Nafisa lebih kelihatan seperti orang bingung. Kikuk, seperti orang yang tak tahu ia di mana. Mungkin saja ini intensional, tetapi menurutku keputusan ini kurang cocok dengan warna pentas yang dibawakan. 

Secara menyeluruh, pentas ini sukses besar menyampaikan maksudnya, juga memantik diskursus, ditandai dengan diskusi pascapentas yang sangat aktif. Cara-cara baru dalam mengekspresikan pesan juga kudapatkan, memperkaya khazanah keteateranku pribadi.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar





dan anak-anak pun oleh ssan 

dan sang anak hanya mampu mencemplungkan sebagian dirinya menyusup perairan, sambil menerka-nerka mungkin ada partikel mayat dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menggendongnya – sedang menyusup masuk pori-pori kulitnya. dan sang anak hanya mampu menapak tanah sambil menerka-nerka mungkin di antara langkahnya, hitungan meter di bawah, ada seonggok kerangka dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menimangnya – sedang di sana tanpa seorang tahu. sedang di sana bersenandung. 

lihatlah pagi cerah dunia, anakku* 

lihatlah mawar merah merekah, sayangku 

kebetulan sang anak pun berjumpa dengan anak lain yang sedang tersungkur menangis pada sebuah nisan. sang anak heran mengapa anak lain ini tidak tampak bahagia meski seseorang yang anak lain itu kenal ada dalam pandangan. dan anak lain ini pun mengatakan bahwa seseorang pada nisan itu – yang dahulu meninabobokannya – adalah yang turut menumpas keluarga anak-anak lain dan membuangnya entah ke tanah atau laut mana. mendengarnya, sang anak teringat sesuatu. sesuatu yang merah kental pekat yang menyiksanya yang menempel pada dirinya dan mestinya ia tancapkan pada anak lain ini. namun… ketika anak lain ini berdiri, tampaklah merah pekat pun menempel padanya. 

hening. angin membawa senandung mayat yang terlintas dalam benaknya tadi ketika mentari menyingsing. 

secerah pagi indah hari depanmu 

semerah mawar rekah harapanku 

dan sang anak pun akhirnya merangkul anak lain ini. sang anak menangis. juga anak lain ini menangis. 

pelan-pelan terdengar dari jauh gaung perang. sang anak dan anak lain pun pulang ke tempat masing-masing, mendapati kini giliran mereka untuk menumpas, melahirkan mayat-mayat lainnya demi bangsa. 

duka derita kubawa setia 

cinta dan cita lahirlah semua 

dan sang anak pun kini merasakan dirinya perlahan merah sepenuhnya sambil menerka-nerka apakah dirinya dan anak lain itu akan menjadi mayat terhormat pada nisan atau mayat hina yang berakhir nyenyak entah di laut atau tanah mana. 

menyinari hari mendatang, sayangku 

jadilah putra harapan bangsamu. 

dan sang anak pun membayangkan rupa anak-anak dari mayat-mayat yang akan ditumpasnya. ia membayangkan dirinya menghilangkan banyak nyawa dan raga demi menjadi ‘anak bangsa’.

* “Lagu Untuk Anakku”, oleh Dialita





 Bercumbu Di Atas Sajak yang Bercinta

Oleh Rahmat Husein


Malam ini—langit seperti bangkai cahaya,

Suram, padam, berbau janji basi.

Ia berbisik tanpa suara:

Esok tak pernah benar-benar pagi.


Awan tetap setia berdiri,

Menatap cakrawala kusam

Dengan saku-saku doa yang bocor,

Menunggu sesuatu

Yang sejak awal tak berniat pulang.


Bintang-bintang mabuk oleh takdirnya sendiri,

Lelah berkilau untuk dunia

Yang hanya menengadah saat butuh.


Sementara bulan—

Menjual wajahnya tiap malam,

Bedak tebal menutup kehampaan,

Agar laku disentuh mata lapar.


Tak ada kata yang sanggup tertiup,

Sebab menunggu telah menjadi malapetaka.

Yang dinanti tak kunjung singgah—

Ia kekasih dalam kepala,

Pemuas yang bernama tapi tak pernah setia.

Ia—angin.

Licin, hangat, pandai merayu arah.

Datang membawa desir manis,

Pergi setelah perutnya penuh.


Semua yang bisu tahu:

Angin tak pernah setia,

Ia hanya singgah untuk menghisap.

Dari saku awan yang kesepian,

Dari niat lembut yang salah alamat.


Lalu awan bertanya,

Ke mana kau pergi?

Padahal jawabannya selalu sama:

Ke mana pun ada tubuh untuk bersandar,

Ke mana pun ada nafsu yang mau membayar.


Mungkinkah badai yang merayunya?

Bukan satu, bukan dua—

Sekumpulan tangan tanpa nama,

Menggenggam tanpa tanggung jawab,

Melepas tanpa penyesalan.


Dan guntur—bajingan yang bersuara lantang,

Memakai angin sampai habis,

Lalu menjual ceritanya

Ke arah mata angin lain.

Mengutuk busuk yang ia cicipi sendiri,

Seolah ludahnya tak pernah ikut mencemari.

Dari utara ke barat,

Kisah diperdagangkan.


Dari baik yang tak pernah utuh

Hingga melacur yang dinormalisasi—

Bukan hanya oleh angin,

Tapi oleh dunia

Yang gemar memanfaatkan

Lalu pura-pura jijik.


Karena di malam seperti ini,

Selalu ada tempat untuk bersandar,

Asal kau rela

Menjadi angin:

Tak punya arah,

Tak punya malu,

Dan tak perlu bertanggung jawab

Atas siapa pun yang kau tinggalkan beku.




Dosa

Oleh Rahmat Husein

 

Dia anak kecil yang tak berdosa

Lahir ke dunia orang gila dari nafsu sesaat

Rasa perih jadi teman sepanjang nafas bertiup

Tanpa pernah bahagia menjenguk sendunya

 

Dia yang menangis, meringis pilu sendiri

Terluka oleh kasih yang tak pernah hadir

Darah adalah selimut hangat saat memeluk diri

Biru ungu ditubuh adalah bukti cinta, katanya

 

Dalam keramaian yang menyesak, ia hadir

Terbelenggu takut dari kesepian rasa tak diterima

Merindukan pulang ke rumah yang hilang

Dalam pencarian dia kehilangan diri

 

 

 TATIAN

Oleh Rahmat Husein

 

Kini kita semua bersatu dalam kejenuhan,

Tuk menari-nari di atas tanah orang mati,

Dipentaskan pada negeri yang sakit,

Didampingi musik dari ketidakadilan yang pilu,

Meriah hingga suara kita tak lagi dianggap ada,

Begitu meriah hingga mesti dipukul, ditangkap, sampai dibinasakan,

Tanpa rasa bersalah oleh mereka yang berenang dalam hukum,

Mereka yang mestinya melindungi kita yang rapuh,

Mereka yang mestinya berdiri sebagai pahlawan di antara kita,

Kini kemarahan dan kutukan memang pantas disuarakan,

Biarkan itu berkumandang sampai angkasa tidak mampu lagi menampungnya.

 

 

 

 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 NASKAH LAKON




 JIWA RAGA DI UJUNG MALAM
 Oleh Asep.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Sedikit Tentang Kami



Teater emper kampus, sebuah kelompok seni teater yang berbasis di lingkungan kampus. Dirintis mulai tahun 1976 dan mulai ditentukan tanggal berdirinya terhitung dari tanggal 5 Agustus 1981, dan mencoba terus konsisten untuk terus berproses mengikuti waktu dan sesekali melawan waktu.

Media Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Arsip

Categories

  • cerpen
  • labnas
  • Lakon
  • naskah
  • prosa
  • puisi
  • puisisemua
  • review pentas
  • teater emka
  • Video

Postingan Populer

  • Review Pentas Teater Kaplink
  • Teater Tikar : Mengancam Kenangan
  • PENTAS KOLABORASI INDONESIA & AUSTRALIA - ONTOSOROH
  • ULANG TAHUN KE-35 TEATER LINGKAR PENTASKAN KALA BENDU
  • TOPENG-TOPENG

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates