• Home
  • Menilik Teater Emka
  • Contact
    • Facebook
    • Instagram
    • twitter
xx xx x Email

Teater Emka

NASKAH LAKON: Ruang Tunggu - Septian Saputra




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



NEGRI SAKIT PENUH CEMAS
 WARISAN UNTUK DINASTI


Bermain diatas panggung politik
Pencarian kekuasaan, agenda tak diketahui
Rezim hina berbut sesuka hati
Tipu daya bergelut bersama
Relung sejarah penderitaan terabadi kan
Semangat perlawanan tetap menyala
Negri para pesulap
tiba tiba banyak yang jadi ada setelah tak
nampak
mundur lah dan menghilang
Siapa berani merampas
Siapa berani merampas
Membabi buta untuk penguasa
Sebelum kau pura-pura dengarkan kamu
Selesaikan dulu yang belum teratasi
Perjuangan berasal dari hati
Bukan nama ayahanda untuk dinasti
Atas nama malam dari gadis yang penuh resah
akan semua ini

Puisi oleh Kalemira.





BERAS-BERAS DI ATAS TANAH


Anak itu duduk menyambut ketenangan, tangannya menebar butiran kecil perlahan di sekitar kakinya. Beberapa merpati terbang mendekat mengambil beras yang berjarak jauh,

Satu merpati,
Dua merpati,
Tapi mereka tidak mendekati,

Perlahan dilemparnya beras itu sedikit jauh, di depan merpati, agar mereka tahu bahwa anak itu ingin memberikan lebih untuk mereka,

Satu merpati,
Dua merpati,
Mulai mendekati,
Tapi tidak pernah menerima butiran yang dekat kaki,

"Apakah sulit untuk mempercayaiku? Ketika aku benar-benar mencintaimu? Kapan kau mau menerima semua bentuk cintaku?" 

Beras terakhir sudah dilemparkan,
Satu merpati,
Dua merpati,
Pergi,

"Maaf jika dunia begitu jahatnya padamu, sehingga kamu tidak bisa percaya akan cinta yang diberikan padamu,
Tapi jika boleh aku bicara di atas luka-lukamu, aku ingin kau tetap memilihku, bahkan ketika beras sudah tidak ada di tanganku,"

'Terima kasih'

Satu merpati,
Menjawab dalam hati,

'Suatu saat, aku juga ingin memilihmu, bukan karena aku butuh, tapi karena aku mau. Aku ingin memilihmu, ketika beras tidak lagi kau lempar, aku ingin hadir untukmu' 

"Jika nanti beras habis, dan kau menemukan lumbung, apakah kau akan tetap datang padaku?" 

'Tapi jika nanti aku datang padamu, apa cintamu juga berbentuk kandang jeruji?' 

Satu merpati pergi,
Dan beras-beras di atas tanah tidak ada lagi.

Puisi oleh Dinda A.K





PELACUR DAN PENDENDAM

  Sebuah percakapan tidak masuk akal hadir dalam kemelut pikiran. Jarum jam menunjukkan kami arah bulan diatas, menegur Si Pelacur dan Si Pendendam. Langkah arah pembicaraan mereka begitu radikal, menuju sebuah kabut hitam tak bernama, bisa jadi asap sampah, bisa jadi Wedhus Gembel, tapi nafas ku terus tetap memanjang hingga saat ini. Menuju Puncak Benteng Willem I, aku baru saja membunuh sesuatu, hal yang lebih berharga dari nurani manusia yang menghangatkan, aku membunuh alasan, equilibrium dunia, pemutar tangis dan tawa. Cinta.

  Moncong senjata yang ampuh mengirim kembali kejahatan ke neraka, kini di tuduh menjadi tersangka utama atas kematian Spirit dan Hakikat jiwa seorang pria. Mata ku tak henti hentinya melihat darah yang ku keluarkan dengan sengaja, darah milik seseorang yang paling membutuhkannya untuk terus menggaungkan kebenaran di tengah kekeliruan sistem sosial.  

  Pengakuan.

  Sebuah ruang sidang sedang melaksanakan penghakiman akbar. Semua mata tertuju pada sang penjahat yang selama hidupnya berhasil lolos dari balasan, Tojo mungkin tidak sudi melihat bagaimana aku dengan nyenyaknya meninggalkan kehancuran dan kiamat, sementara sang Cthulhu terombang-ambing dalam lautan gelap.

   Itulah penghakiman, seadil-adilnya. Sang Rabun diberikan lensa untuk melihat goretan-goretan yang tanpa sadar ia ciptakan, seperti aku, kematian begitu dekat ketika mulutku bersaksi di depan Pelacur. 


Prosa oleh Faqih


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 


Heaven that should've matter

When the cloud begin darken, I started mutter

“Tuesday wasn’t friend of mine, they’re a hater”

A bell ringin, it’s a comrade named Chester

Whispering me a disaster

Not so long, come a news from radio broadcaster.

A flood about to coming, overflowing all the gutter.

No one seen a Mayor, damn they’re a sucker.

A woman came, her pretty eyes seem unbothered.

Chatting for a while, then ask a chef for a Beef Platter

She prefer a seafood, then order a Oyster.

What a polite and sweet talking, she keep calling me “mister”.

We talk a lot, not knowing its been an hours.

She’s kind of cute, owned a pet otter named Roger.

It’s a lovely night, better than other.

To bad, something bothered her.

It’s a call from her sister

She worried, cause its all she mattered.

Rushing out from the dinner,

Before that, she tell me a treasure.

A wonderfull sentence, “my name is Ester”.

Faqih 15/3/26


Bonnie’s Grave

 

 A Tall bearded gentleman sit beside of me,

 With opened hand, a firm handshake, he’s no one enemy.

 We traded a few sentence, until he dropped a tear.

 He confesed “My mind wasn’t very clear.”

 Telling he done a sin.

 Used to be drunker, always making a scene.

 Drink night til day, until his wallet went dry

 Recklessly living, until one evening, someone died.

 Blood covering his hand, a red from someone he love more than any.

 Her name engraved in tomb, a lovely lady, “Bonnie”.

  

 Faqih 15/3/26


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Older Posts

Sedikit Tentang Kami



Teater emper kampus, sebuah kelompok seni teater yang berbasis di lingkungan kampus. Dirintis mulai tahun 1976 dan mulai ditentukan tanggal berdirinya terhitung dari tanggal 5 Agustus 1981, dan mencoba terus konsisten untuk terus berproses mengikuti waktu dan sesekali melawan waktu.

Media Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Arsip

Categories

  • cerpen
  • labnas
  • Lakon
  • naskah
  • prosa
  • puisi
  • puisisemua
  • review pentas
  • teater emka
  • Video

Postingan Populer

  • Review Pentas Teater Kaplink
  • Teater Tikar : Mengancam Kenangan
  • PENTAS KOLABORASI INDONESIA & AUSTRALIA - ONTOSOROH
  • ULANG TAHUN KE-35 TEATER LINGKAR PENTASKAN KALA BENDU
  • TOPENG-TOPENG

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates