• Home
  • Menilik Teater Emka
  • Contact
    • Facebook
    • Instagram
    • twitter
xx xx x Email

Teater Emka





dan anak-anak pun oleh ssan 


dan anak-anak pun 

dan sang anak hanya mampu mencemplungkan sebagian dirinya menyusup perairan, sambil menerka-nerka mungkin ada partikel mayat dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menggendongnya – sedang menyusup masuk pori-pori kulitnya. dan sang anak hanya mampu menapak tanah sambil menerka-nerka mungkin di antara langkahnya, hitungan meter di bawah, ada seonggok kerangka dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menimangnya – sedang di sana tanpa seorang tahu. sedang di sana bersenandung. 

lihatlah pagi cerah dunia, anakku* 

lihatlah mawar merah merekah, sayangku 

kebetulan sang anak pun berjumpa dengan anak lain yang sedang tersungkur menangis pada sebuah nisan. sang anak heran mengapa anak lain ini tidak tampak bahagia meski seseorang yang anak lain itu kenal ada dalam pandangan. dan anak lain ini pun mengatakan bahwa seseorang pada nisan itu – yang dahulu meninabobokannya – adalah yang turut menumpas keluarga anak-anak lain dan membuangnya entah ke tanah atau laut mana. mendengarnya, sang anak teringat sesuatu. sesuatu yang merah kental pekat yang menyiksanya yang menempel pada dirinya dan mestinya ia tancapkan pada anak lain ini. namun… ketika anak lain ini berdiri, tampaklah merah pekat pun menempel padanya. 

hening. angin membawa senandung mayat yang terlintas dalam benaknya tadi ketika mentari menyingsing. 

secerah pagi indah hari depanmu 

semerah mawar rekah harapanku 

dan sang anak pun akhirnya merangkul anak lain ini. sang anak menangis. juga anak lain ini menangis. 

pelan-pelan terdengar dari jauh gaung perang. sang anak dan anak lain pun pulang ke tempat masing-masing, mendapati kini giliran mereka untuk menumpas, melahirkan mayat-mayat lainnya demi bangsa. 

duka derita kubawa setia 

cinta dan cita lahirlah semua 

dan sang anak pun kini merasakan dirinya perlahan merah sepenuhnya sambil menerka-nerka apakah dirinya dan anak lain itu akan menjadi mayat terhormat pada nisan atau mayat hina yang berakhir nyenyak entah di laut atau tanah mana. 

menyinari hari mendatang, sayangku 

jadilah putra harapan bangsamu. 

dan sang anak pun membayangkan rupa anak-anak dari mayat-mayat yang akan ditumpasnya. ia membayangkan dirinya menghilangkan banyak nyawa dan raga demi menjadi ‘anak bangsa’.

* “Lagu Untuk Anakku”, oleh Dialita 




 Bercumbu Di Atas Sajak yang Bercinta

Oleh Rahmat Husein


Malam ini—langit seperti bangkai cahaya,

Suram, padam, berbau janji basi.

Ia berbisik tanpa suara:

Esok tak pernah benar-benar pagi.


Awan tetap setia berdiri,

Menatap cakrawala kusam

Dengan saku-saku doa yang bocor,

Menunggu sesuatu

Yang sejak awal tak berniat pulang.


Bintang-bintang mabuk oleh takdirnya sendiri,

Lelah berkilau untuk dunia

Yang hanya menengadah saat butuh.


Sementara bulan—

Menjual wajahnya tiap malam,

Bedak tebal menutup kehampaan,

Agar laku disentuh mata lapar.


Tak ada kata yang sanggup tertiup,

Sebab menunggu telah menjadi malapetaka.

Yang dinanti tak kunjung singgah—

Ia kekasih dalam kepala,

Pemuas yang bernama tapi tak pernah setia.

Ia—angin.

Licin, hangat, pandai merayu arah.

Datang membawa desir manis,

Pergi setelah perutnya penuh.


Semua yang bisu tahu:

Angin tak pernah setia,

Ia hanya singgah untuk menghisap.

Dari saku awan yang kesepian,

Dari niat lembut yang salah alamat.


Lalu awan bertanya,

Ke mana kau pergi?

Padahal jawabannya selalu sama:

Ke mana pun ada tubuh untuk bersandar,

Ke mana pun ada nafsu yang mau membayar.


Mungkinkah badai yang merayunya?

Bukan satu, bukan dua—

Sekumpulan tangan tanpa nama,

Menggenggam tanpa tanggung jawab,

Melepas tanpa penyesalan.


Dan guntur—bajingan yang bersuara lantang,

Memakai angin sampai habis,

Lalu menjual ceritanya

Ke arah mata angin lain.

Mengutuk busuk yang ia cicipi sendiri,

Seolah ludahnya tak pernah ikut mencemari.

Dari utara ke barat,

Kisah diperdagangkan.


Dari baik yang tak pernah utuh

Hingga melacur yang dinormalisasi—

Bukan hanya oleh angin,

Tapi oleh dunia

Yang gemar memanfaatkan

Lalu pura-pura jijik.


Karena di malam seperti ini,

Selalu ada tempat untuk bersandar,

Asal kau rela

Menjadi angin:

Tak punya arah,

Tak punya malu,

Dan tak perlu bertanggung jawab

Atas siapa pun yang kau tinggalkan beku.




Dosa

Oleh Rahmat Husein

 

Dia anak kecil yang tak berdosa

Lahir ke dunia orang gila dari nafsu sesaat

Rasa perih jadi teman sepanjang nafas bertiup

Tanpa pernah bahagia menjenguk sendunya

 

Dia yang menangis, meringis pilu sendiri

Terluka oleh kasih yang tak pernah hadir

Darah adalah selimut hangat saat memeluk diri

Biru ungu ditubuh adalah bukti cinta, katanya

 

Dalam keramaian yang menyesak, ia hadir

Terbelenggu takut dari kesepian rasa tak diterima

Merindukan pulang ke rumah yang hilang

Dalam pencarian dia kehilangan diri

 

 

 TATIAN

Oleh Rahmat Husein

 

Kini kita semua bersatu dalam kejenuhan,

Tuk menari-nari di atas tanah orang mati,

Dipentaskan pada negeri yang sakit,

Didampingi musik dari ketidakadilan yang pilu,

Meriah hingga suara kita tak lagi dianggap ada,

Begitu meriah hingga mesti dipukul, ditangkap, sampai dibinasakan,

Tanpa rasa bersalah oleh mereka yang berenang dalam hukum,

Mereka yang mestinya melindungi kita yang rapuh,

Mereka yang mestinya berdiri sebagai pahlawan di antara kita,

Kini kemarahan dan kutukan memang pantas disuarakan,

Biarkan itu berkumandang sampai angkasa tidak mampu lagi menampungnya.

 

 

 

 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



On The Age of Twenty

oleh Natasya Citra

 Hari ini adalah hari ulang tahun seorang gadis yang telah menjalani hidup selama 20 tahun


di dunia. Dia berdiri tegang di antara kue dan kado-kado. Bajunya apik dan riasannya cantik.

Meski begitu, jantungnya bertalu-talu tak keruan. Bukan debar kebahagiaan yang terasa

mengalir di tubuhnya. Gadis itu berusaha tetap tersenyum ketika orang-orang bergantian

menyalaminya memberi selamat, meskipun setiap senyum yang dia tarik terasa menyakitkan

di hati. Matanya digenangi air mata saat kedua orang tuanya memeluk dan mengecupnya

bergantian, dan menggumamkan doa-doa terbaik untuknya. Seharusnya gadis itu tertawa

bahagia sekarang, dikelilingi sanak keluarga dan sahabatnya. Seharusnya gadis itu

memamerkan senyum terbaiknya pada setiap orang yang ditemuinya. Namun semakin

banyak orang yang meniupkan kebahagiaan dan sukacita, semakin berat dan sesak perasaan

gadis itu.

Dia menunduk menatap kue cokelat ulang tahunnya, yang berhiaskan lilin imitasi

berbentuk angka 20. Api-apinya berpijar tenang, dan meliuk-liuk lincah seolah sedang

menertawakan gadis itu. Orang-orang bertepuk tangan riuh saat gadis itu meniup lilin seusai

mengucapkan permohonan dalam hati. Meski gadis itu tak yakin permohonan apa yang

terucap dalam hatinya. Kue cokelat itu dibagi-bagikan, anak-anak kecil tertawa-tawa riang

saling mencolek krim cokelat itu, para orang dewasa menggumamkan pujian atas enaknya

kue itu. Saat orang-orang teralih perhatiannya pada kue cokelat mereka, gadis itu diam-diam

pergi dari pestanya dan mengunci dirinya di bilik kamar mandi. Air mata yang menggenang

itu meluncur tanpa izin ke pipinya, merusak hiasan gadis itu. Dia membiarkan air mata lain

ikut menyusul meluncur pelan ke pipinya.

Gadis itu menangis dengan isak tertahan. Hatinya dipenuhi perasaan takut. Takut akan

dunia dewasa yang menantinya di depan. Takut akan tanggung jawab besar yang akan dia

emban. Takut akan harapan dan ekspektasi orang tua yang membebani pundak kecilnya.

Takut karena dia merasa belum membanggakan orang tuanya yang kian menua. Dan takut

akan realita keras yang akan menamparnya. Gadis itu merasa belum cukup kuat menghadapi

semua itu. Dia sedang tidak baik-baik saja dengan pikiran-pikiran dan ketakutan-ketakutan

yang mengerubunginya.

Saat gadis itu mendongak menatap cermin, wajahnya terlihat mengeluarkan retakan dari

jejak air matanya. Retakan itu semakin melebar dan riasan wajah gadis itu meluncur terjatuh

mengenai wastafel dan hancur berkeping-keping. Gadis itu mendongak kembali, dan

wajahnya yang terpatri di cermin menunjukkan wajah sesosok gadis kecil. Wajah pucat


bertaburkan hiasan telah hilang sepenuhnya, dan mata merahnya sehabis menangis berubah

menjadi binar polos mata seorang gadis kecil yang bersemangat di hari ulang tahunnya yang

ke 10. Figurnya yang berbayang di cermin telah berubah sepenuhnya menjadi gadis berumur

10 tahun.

Gadis kecil itu berkali-kali tertawa dan melompat-lompat, sedang berbahagia karena

umurnya telah menginjak usia 10 tahun. Ibunya berjanji jika umurnya sudah menginjak 10

tahun, gadis kecil itu boleh bermain bersama teman-temannya sedikit lebih larut dan

melewatkan tidur siangnya. Ayahnya juga menjanjikan sepeda roda dua untuk kado ulang

tahunnya. Gadis itu akhirnya tersadar, bahwa bayangan yang dilihatnya di cermin adalah

dirinya 10 tahun yang lalu.

Gadis kecil itu mengerling menatap cermin, dan tersenyum lepas seolah sadar sedang

diperhatikan oleh dirinya dari 10 tahun kemudian. Gadis kecil itu tak sabar menantikan masa

depan apa yang menunggunya 10 tahun kemudian. Dia yakin ada banyak hal-hal besar yang

menunggunya. Dan dia sangat bangga melihat dirinya telah berhasil tumbuh dengan

pencapaian yang dimilikinya. Gadis itu tersentak kaget, dan pantulan di cermin sudah

berubah kembali menjadi dirinya yang sekarang. Perasaan cemas tak keruan yang bercokol

dalam dirinya anehnya telah menghilang, bersamaan dengan air matanya. Dadanya kini

hangat oleh harapan dan keyakinan. Keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja. Keyakinan


yang diinginkan oleh dirinya 10 tahun yang lalu, bahwa dia akan banyak bertemu dengan hal-

hal besar dan baru ke depannya. Dan bahwa dia akan banyak belajar dari hal-hal tersebut.


Ingar-bingar para orang-orang diluar masuk ke telinga gadis itu, dan dia yakin orang-orang

mulai mencarinya karena pemeran utama pesta tiba-tiba menghilang.

Ya, tidak apa-apa, gadis itu meyakinkan dirinya sendiri. Dengan langkah mantap, dia

kembali masuk ke pestanya dengan perasaan jauh lebih ringan. Tidak apa-apa merasa tidak

baik-baik saja sekarang. Tidak apa-apa merasa takut dan lelah sekarang. Namun gadis itu

tetap ingat, masa depan yang penuh hal-hal besar dan kejutan sedang menantinya untuk

didatangi.



Kuning


oleh Zafira Fayya


Beribu saat dalam kenangan mencuat berantakan, kelebatnya

melecut warna-warni perasaan — bernanah-nanah mendarah

dan merintih-rintih perih. Ada yang berdebar mengisi

ricuhnya ruangan: tik-tok jam dinding, detik-detik

kritis, juga degup jantung kita berpesta pora tak karuan.


Di luar: kita pandang sore begitu renta, sementara

matahari bertengger setia pada pucuk-pucuk pepohonan.

Menguning cuaca dan kibaran bendera atas nama

perasaanku. Kata-kata jelma daun-daun kerontang yang

segera disanggit angin dan tak sampai pada pelataran —

atau pada siapapun.


Kita sepenuhnya tersesat sewaktu barat memanjangkan

bayang-bayang menuju atap ruang, sewaktu cinta membuat

kita terpencil dalam sekat, dan penciumanku tak lagi

menghidu bau tubuh kinasihmu.


Kumandang magrib memulangkan burung dan anakan

layangan. Langit lebam, begitu juga sepasang pipimu,

atau telapak tanganku — atau kita? Telah berpulang

kenang-kenang dalam kening yang senang dan yang bikin

pening. Telah berpulang aku dan kamu kepada yang bukan

kita, yang amat asing dan penuh denging.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



NEGRI SAKIT PENUH CEMAS
 WARISAN UNTUK DINASTI


Bermain diatas panggung politik
Pencarian kekuasaan, agenda tak diketahui
Rezim hina berbut sesuka hati
Tipu daya bergelut bersama
Relung sejarah penderitaan terabadi kan
Semangat perlawanan tetap menyala
Negri para pesulap
tiba tiba banyak yang jadi ada setelah tak
nampak
mundur lah dan menghilang
Siapa berani merampas
Siapa berani merampas
Membabi buta untuk penguasa
Sebelum kau pura-pura dengarkan kamu
Selesaikan dulu yang belum teratasi
Perjuangan berasal dari hati
Bukan nama ayahanda untuk dinasti
Atas nama malam dari gadis yang penuh resah
akan semua ini

Puisi oleh Kalemira.





BERAS-BERAS DI ATAS TANAH


Anak itu duduk menyambut ketenangan, tangannya menebar butiran kecil perlahan di sekitar kakinya. Beberapa merpati terbang mendekat mengambil beras yang berjarak jauh,

Satu merpati,
Dua merpati,
Tapi mereka tidak mendekati,

Perlahan dilemparnya beras itu sedikit jauh, di depan merpati, agar mereka tahu bahwa anak itu ingin memberikan lebih untuk mereka,

Satu merpati,
Dua merpati,
Mulai mendekati,
Tapi tidak pernah menerima butiran yang dekat kaki,

"Apakah sulit untuk mempercayaiku? Ketika aku benar-benar mencintaimu? Kapan kau mau menerima semua bentuk cintaku?" 

Beras terakhir sudah dilemparkan,
Satu merpati,
Dua merpati,
Pergi,

"Maaf jika dunia begitu jahatnya padamu, sehingga kamu tidak bisa percaya akan cinta yang diberikan padamu,
Tapi jika boleh aku bicara di atas luka-lukamu, aku ingin kau tetap memilihku, bahkan ketika beras sudah tidak ada di tanganku,"

'Terima kasih'

Satu merpati,
Menjawab dalam hati,

'Suatu saat, aku juga ingin memilihmu, bukan karena aku butuh, tapi karena aku mau. Aku ingin memilihmu, ketika beras tidak lagi kau lempar, aku ingin hadir untukmu' 

"Jika nanti beras habis, dan kau menemukan lumbung, apakah kau akan tetap datang padaku?" 

'Tapi jika nanti aku datang padamu, apa cintamu juga berbentuk kandang jeruji?' 

Satu merpati pergi,
Dan beras-beras di atas tanah tidak ada lagi.

Puisi oleh Dinda A.K





PELACUR DAN PENDENDAM

  Sebuah percakapan tidak masuk akal hadir dalam kemelut pikiran. Jarum jam menunjukkan kami arah bulan diatas, menegur Si Pelacur dan Si Pendendam. Langkah arah pembicaraan mereka begitu radikal, menuju sebuah kabut hitam tak bernama, bisa jadi asap sampah, bisa jadi Wedhus Gembel, tapi nafas ku terus tetap memanjang hingga saat ini. Menuju Puncak Benteng Willem I, aku baru saja membunuh sesuatu, hal yang lebih berharga dari nurani manusia yang menghangatkan, aku membunuh alasan, equilibrium dunia, pemutar tangis dan tawa. Cinta.

  Moncong senjata yang ampuh mengirim kembali kejahatan ke neraka, kini di tuduh menjadi tersangka utama atas kematian Spirit dan Hakikat jiwa seorang pria. Mata ku tak henti hentinya melihat darah yang ku keluarkan dengan sengaja, darah milik seseorang yang paling membutuhkannya untuk terus menggaungkan kebenaran di tengah kekeliruan sistem sosial.  

  Pengakuan.

  Sebuah ruang sidang sedang melaksanakan penghakiman akbar. Semua mata tertuju pada sang penjahat yang selama hidupnya berhasil lolos dari balasan, Tojo mungkin tidak sudi melihat bagaimana aku dengan nyenyaknya meninggalkan kehancuran dan kiamat, sementara sang Cthulhu terombang-ambing dalam lautan gelap.

   Itulah penghakiman, seadil-adilnya. Sang Rabun diberikan lensa untuk melihat goretan-goretan yang tanpa sadar ia ciptakan, seperti aku, kematian begitu dekat ketika mulutku bersaksi di depan Pelacur. 


Prosa oleh Faqih


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Sedikit Tentang Kami



Teater emper kampus, sebuah kelompok seni teater yang berbasis di lingkungan kampus. Dirintis mulai tahun 1976 dan mulai ditentukan tanggal berdirinya terhitung dari tanggal 5 Agustus 1981, dan mencoba terus konsisten untuk terus berproses mengikuti waktu dan sesekali melawan waktu.

Media Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Arsip

Categories

  • cerpen
  • esai
  • labnas
  • Lakon
  • naskah
  • prosa
  • puisi
  • puisisemua
  • review pentas
  • teater emka
  • Video

Postingan Populer

  • Review Pentas Teater Kaplink
  • Teater Tikar : Mengancam Kenangan
  • PENTAS KOLABORASI INDONESIA & AUSTRALIA - ONTOSOROH
  • ULANG TAHUN KE-35 TEATER LINGKAR PENTASKAN KALA BENDU
  • TOPENG-TOPENG

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates