• Home
  • Menilik Teater Emka
  • Contact
    • Facebook
    • Instagram
    • twitter
xx xx x Email

Teater Emka



On The Age of Twenty

oleh Natasya Citra

 Hari ini adalah hari ulang tahun seorang gadis yang telah menjalani hidup selama 20 tahun


di dunia. Dia berdiri tegang di antara kue dan kado-kado. Bajunya apik dan riasannya cantik.

Meski begitu, jantungnya bertalu-talu tak keruan. Bukan debar kebahagiaan yang terasa

mengalir di tubuhnya. Gadis itu berusaha tetap tersenyum ketika orang-orang bergantian

menyalaminya memberi selamat, meskipun setiap senyum yang dia tarik terasa menyakitkan

di hati. Matanya digenangi air mata saat kedua orang tuanya memeluk dan mengecupnya

bergantian, dan menggumamkan doa-doa terbaik untuknya. Seharusnya gadis itu tertawa

bahagia sekarang, dikelilingi sanak keluarga dan sahabatnya. Seharusnya gadis itu

memamerkan senyum terbaiknya pada setiap orang yang ditemuinya. Namun semakin

banyak orang yang meniupkan kebahagiaan dan sukacita, semakin berat dan sesak perasaan

gadis itu.

Dia menunduk menatap kue cokelat ulang tahunnya, yang berhiaskan lilin imitasi

berbentuk angka 20. Api-apinya berpijar tenang, dan meliuk-liuk lincah seolah sedang

menertawakan gadis itu. Orang-orang bertepuk tangan riuh saat gadis itu meniup lilin seusai

mengucapkan permohonan dalam hati. Meski gadis itu tak yakin permohonan apa yang

terucap dalam hatinya. Kue cokelat itu dibagi-bagikan, anak-anak kecil tertawa-tawa riang

saling mencolek krim cokelat itu, para orang dewasa menggumamkan pujian atas enaknya

kue itu. Saat orang-orang teralih perhatiannya pada kue cokelat mereka, gadis itu diam-diam

pergi dari pestanya dan mengunci dirinya di bilik kamar mandi. Air mata yang menggenang

itu meluncur tanpa izin ke pipinya, merusak hiasan gadis itu. Dia membiarkan air mata lain

ikut menyusul meluncur pelan ke pipinya.

Gadis itu menangis dengan isak tertahan. Hatinya dipenuhi perasaan takut. Takut akan

dunia dewasa yang menantinya di depan. Takut akan tanggung jawab besar yang akan dia

emban. Takut akan harapan dan ekspektasi orang tua yang membebani pundak kecilnya.

Takut karena dia merasa belum membanggakan orang tuanya yang kian menua. Dan takut

akan realita keras yang akan menamparnya. Gadis itu merasa belum cukup kuat menghadapi

semua itu. Dia sedang tidak baik-baik saja dengan pikiran-pikiran dan ketakutan-ketakutan

yang mengerubunginya.

Saat gadis itu mendongak menatap cermin, wajahnya terlihat mengeluarkan retakan dari

jejak air matanya. Retakan itu semakin melebar dan riasan wajah gadis itu meluncur terjatuh

mengenai wastafel dan hancur berkeping-keping. Gadis itu mendongak kembali, dan

wajahnya yang terpatri di cermin menunjukkan wajah sesosok gadis kecil. Wajah pucat


bertaburkan hiasan telah hilang sepenuhnya, dan mata merahnya sehabis menangis berubah

menjadi binar polos mata seorang gadis kecil yang bersemangat di hari ulang tahunnya yang

ke 10. Figurnya yang berbayang di cermin telah berubah sepenuhnya menjadi gadis berumur

10 tahun.

Gadis kecil itu berkali-kali tertawa dan melompat-lompat, sedang berbahagia karena

umurnya telah menginjak usia 10 tahun. Ibunya berjanji jika umurnya sudah menginjak 10

tahun, gadis kecil itu boleh bermain bersama teman-temannya sedikit lebih larut dan

melewatkan tidur siangnya. Ayahnya juga menjanjikan sepeda roda dua untuk kado ulang

tahunnya. Gadis itu akhirnya tersadar, bahwa bayangan yang dilihatnya di cermin adalah

dirinya 10 tahun yang lalu.

Gadis kecil itu mengerling menatap cermin, dan tersenyum lepas seolah sadar sedang

diperhatikan oleh dirinya dari 10 tahun kemudian. Gadis kecil itu tak sabar menantikan masa

depan apa yang menunggunya 10 tahun kemudian. Dia yakin ada banyak hal-hal besar yang

menunggunya. Dan dia sangat bangga melihat dirinya telah berhasil tumbuh dengan

pencapaian yang dimilikinya. Gadis itu tersentak kaget, dan pantulan di cermin sudah

berubah kembali menjadi dirinya yang sekarang. Perasaan cemas tak keruan yang bercokol

dalam dirinya anehnya telah menghilang, bersamaan dengan air matanya. Dadanya kini

hangat oleh harapan dan keyakinan. Keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja. Keyakinan


yang diinginkan oleh dirinya 10 tahun yang lalu, bahwa dia akan banyak bertemu dengan hal-

hal besar dan baru ke depannya. Dan bahwa dia akan banyak belajar dari hal-hal tersebut.


Ingar-bingar para orang-orang diluar masuk ke telinga gadis itu, dan dia yakin orang-orang

mulai mencarinya karena pemeran utama pesta tiba-tiba menghilang.

Ya, tidak apa-apa, gadis itu meyakinkan dirinya sendiri. Dengan langkah mantap, dia

kembali masuk ke pestanya dengan perasaan jauh lebih ringan. Tidak apa-apa merasa tidak

baik-baik saja sekarang. Tidak apa-apa merasa takut dan lelah sekarang. Namun gadis itu

tetap ingat, masa depan yang penuh hal-hal besar dan kejutan sedang menantinya untuk

didatangi.



Kuning


oleh Zafira Fayya


Beribu saat dalam kenangan mencuat berantakan, kelebatnya

melecut warna-warni perasaan — bernanah-nanah mendarah

dan merintih-rintih perih. Ada yang berdebar mengisi

ricuhnya ruangan: tik-tok jam dinding, detik-detik

kritis, juga degup jantung kita berpesta pora tak karuan.


Di luar: kita pandang sore begitu renta, sementara

matahari bertengger setia pada pucuk-pucuk pepohonan.

Menguning cuaca dan kibaran bendera atas nama

perasaanku. Kata-kata jelma daun-daun kerontang yang

segera disanggit angin dan tak sampai pada pelataran —

atau pada siapapun.


Kita sepenuhnya tersesat sewaktu barat memanjangkan

bayang-bayang menuju atap ruang, sewaktu cinta membuat

kita terpencil dalam sekat, dan penciumanku tak lagi

menghidu bau tubuh kinasihmu.


Kumandang magrib memulangkan burung dan anakan

layangan. Langit lebam, begitu juga sepasang pipimu,

atau telapak tanganku — atau kita? Telah berpulang

kenang-kenang dalam kening yang senang dan yang bikin

pening. Telah berpulang aku dan kamu kepada yang bukan

kita, yang amat asing dan penuh denging.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



MANIFESTASI GELAP SEPI
karya Zulkifli Muhammad



Ini adalah sebuah catatan harian dari seseorang yang menyebut dirinya gelap, saya tulis dari usaha saya saat tidak sengaja melihatnya dari buku catatannya pada suatu hari yang entah. Saya susun sesuai dengan ingatan yang masih tersimpan dengan satu alasan bahwa kalian juga harus membacanya;

Kepada gelap untuk gelap

(sebuah catatan kecil tentang gelap dan sepi)


Aku besar dengan harapan ibu yang menginginkan aku menjadi orang hebat, tapi memang hidup selalu berjalan tidak sesuai dengan harapan. Jadilah aku tumbuh dengan keinginan sendiri untuk menjadi apa saja. Menjadi apa saja bagi kehidupan yang berjalan denganku bukan berarti bebas untuk menjadi apapun yang aku mau, tapi menjadi apa saja yang bisa kukerjakan agar kehidupan tetap mau berjalan bersamaku. 

Ingatan membawa pada waktu-waktu dimana kehidupan bermula dari pertanyaan “Kalau besar mau jadi apa?” 

Waktu itu kawan-kawanku ingin menjadi polisi atau tentara dan kawan yang lain ingin menjadi istri polisi atau istri tentara, dan beberapa yang lain ingin menjadi negara padahal guru waktu itu menginginkan kami menjadi sesuatu yang besar bukan menyeramkan. 

Besar bagiku berarti mempunyai cita-cita yang sangat laki-laki seperti kawan yang lain, dan karena itu aku ingin menjadi cerpenis sebab itu sangat laki-laki. Tatapan semua orang termasuk guruku mengejek bahwa menjadi cerpenis adalah ide yang sangat konyol. 

Selain besar dengan harapan dan tumbuh dengan keinginan menjadi apa saja, sepertinya hidupku hari ini tidak terlepas dengan marah-marah guruku yang mengangap setiap pendapatku adalah kebodohan hanya karena tidak sesuai dengan buku pelajaran. Waktu itu aku pernah dimarahi hanya karena menggolongkan ibu dalam sepsies yang dapat membelah diri. Aku dikeluarkan dari kelas hanya karena tidak mejawab amuba, padahal di rumah aku selalu melihat ibu menjadi lebih dari dua. Ibu bisa menjadi ibu yang sesekali waktu menjadi ayah, menjadi dapur, menjadi kasur, menjadi mesin pencuci pakaian, juga beberapa kali menjadi jaminan pinjaman untuk makan beberapa hari kedepan. Ibu bisa menjadi apa saja yang kehidupanku butuhkan. 

Pernah juga saat itu, pada sebuah waktu yang membeku dalam ingatan karena ibuku dipanggil guru hanya karena persoalan menggambar. Hari itu kami disuruh menggambar ayah sebab hari itu adalah hari ayah. Aku dianggap melecehkan perintah hanya karena menggambar ayah dengan empat kaki sebab memang aku tidak pernah melihat ayah. Konon katanya beberapa hari sebelum kehidupan memaksaku lahir, ayah pergi mengejar matahari. Aku membenci terang sejak aku lahir. 

Ada saat dimana aku bertanya kepada ibu. “Ibu, Ayah kemana bu?” 
“Tugas Negara” sahut Ibu yang sedang mengeringkan sisa-sisa malam 
“Ayahmu mu nasionalisme yang membingungkan, kelak ia akan pulang”.

Aku sekarang besar, dalam artian aku tumbuh dari kecil ke tidak kecil lagi. Aku terjebak menjadi penulis. Orang-orang bilang kalau aku belum menjadi apa-apa sebab sebagai penulis aku belum menjadi. Itu ada benarnya juga karena aku hanya menulis untuk diriku sendiri. Dan aku menulis di dalam gelap tentang sebuah gelap dan memang hanya gelap. 

Dalam gelap kutemukan kesepian yang begitu nyaring lengkingnya. Aku suka gelap dan sepi dan aku membenci terang sejak lahir. 

Memang menjadi penulis adalah perjalanan sunyi, setidaknya untuk diriku yang menulis untuk diri sendiri. Pernah aku meragukan diri, apakah memang aku seorang penulis sebab hanya punya satu pembaca yaitu aku. Aku menjadi penulis dan pembaca sekaligus. Rasanya sudah bisa menggolongkan aku dalam spesies yang dapat membelah diri, berdampingan dengan ibu. Ah ibu ingatanku melesat pada waktu dimana kehidupan memilih untuk tidak lagi berjalan bersamanya. 

Aku bertambah besar dan ibu menjadi usia. Menyusut dan menjadi renta. Agar aku menjadi besar, ibu meminjamkan dirinya pada kehidupan dan begitulah kehidupan, sebagian ibu lupa dikembalikan. Tersisalah sebagian yang sakit-sakitan. 

Hari-harinya menjadi gombal pesing dan aliran infus serta cemas luar biasa. Hal yang paling menyedihkan ketika kamu besar adalah melihat ibumu menyusut kecil dan ringkih. Dan yang paling menyedihkan lagi jika kau seorang anak adalah melihat ibumu terbujur menderita karena sisa-sisa membesarkanmu. Ia hanya punya ingatan bahwa ia masih perempuan, ia masih seorang ibu. Aku memilih mematikan lampu setiap menjenguknya dikamarnya, hanya karena aku tidak mempunyai ketabahan yang kuat dalam melihat penderitaan seperti ibu. 


Setiap penderitaan memang harus berakhir atau setidaknya harus diakhiri. Dan gelap waktu itu menunaikan tugas untuk mengakhiri ibuku. Sedih adalah aku hari itu, tapi setidaknya ibuku mati dalam gelap sehingga aku tidak perlu melihat ajal merebut wajahanya yang indah itu saat kuputuskan membekap wajahnya agar oksigen terputus dari dirinya. Agar kehidupan terputus untuk menyiksanya.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Brahmanti
karya Sony Prasetya Wasono

Hei Silvy! Aku kelihatan nih..Silvy, lihatlah sampingmu, dari tadi ia melihatmu dengan penuh nafsu! Argh! Sudah aku kira semua pasti jadi seperti ini. Ini gara-gara setelan lingerie-nya yang selalu memamerkan aku dan yang kulindungi. Sial! Ini buan kali pertama ada laki-laki yang melihatku. Dulu, entah kapan, ada yang melihatku, dia lalu pura-pura kenalan dengan Silvy, belum genam sehari laki-laki itu mengenal Silvy, langsung aja main serobot! Grasak-grusuk, grayang sana, grayang sini.

      Aku ada karena dibeli, tapi aku bukan sekedar hiasan dada! Yang bisa digerayangi laki-laki seenaknya saja! Aku tidak tahu kenapa Silvy selalu saja melayani laki-laki seperti itu. Huh…Silvy!!! Hey Silvy! Tolonglah, tutup sedikit saja dadamu itu! Ia melihatku semenjak kita berang kat dari terminal Kudus tadi. Plissss Silvy…aku sudah tidak tahan dilihatnya! Sudah hampir seperempat  jam semenjak dari terminal Kudus tadi laki-laki ini terus curi-curi pandang melihatku. Aku tidak tahu, kenapa stiap Silvy memakai aku ia pasti memamerkan aku. Tokh dadanya juga tidak terlalu besar, aku hanya 34, berwarna hitam. Kecil bukan? Bukan aku tidak bangga dipakai tapi aku selalu risi ketika dipamerkan! Aku merasa tidak ada gunanya, aku tidak merasa melindungi payudaranya. Kenapa dia tidak usah memakai kutang saja?

      Aku dibeli Silvy dua bulan yang lalu. Ketika itu aku merasa aneh ketika perempuan ini menunjukku. Ia langsung memakaiku, dan sebelumnya ia memakai bra yang sama denganku. Hitam dan ber-kap kecil. Hanya pada dua menit pertama ia memakai aku, aku merasa nyaman. Setelah itu, aku menjadi risi sampai sekarang. Aku kira kemeja hitamnya ia pakai rapat-rapat untuk menutupiku, namun ternayata ia malah membuka sampai belahan dada yang aku lindungi terlihat. Malamnya laki-laki itu menggerayangiku, menggigit-gigit aku tepat pada puting sampai aku basah. Laki-laki itu kemudian melepas aku dari apa yang aku lindungi dan melemparku jauh-jauh. Dan desahan kedua orang itu membuatku ingin muntah. Biarpun laki-laki itu adalah suami dari orang yang membeliku, aku tetap merasa dilecehkan, tugas dan kewajibanku tidak dihargai sama sekali!

      Kemudian aku mengerti kenapa Silvy memamerkan aku, aku mendengarnya ketika bergosip ria di dalam almari, maklumlah tabiat perempuan. Temanku, bra berwarna krem, berukuran sama denganku tapi bigos nomor satu, berkata kalau ia dipakai Silvy hanya ketika berada dirumah, selebihnya ketika ia bepergian ia memakai aku dan bra-bra yang berwarna hitam sport yang super sombong-sombong itu atau yang warna merah yang pada sok sexy itu.

      Warnaku hitam tapi tidak mau menyombongkan diri hanya karena sering dipamerkan. Aku lebih suka berada di balik baju, entah apa jenisnya, asal tertutup rapat. Biarpun nanti aku basah karena keringat perempuan yang memakaiku daripada harus basah karena liur laki-laki. Kata temanku, bra-bra yang berwarna hitam adalah bra yang khusus dipamerkan, tapi bagiku tidak. Aku berhak melindungi dada perempuan yang memakaiku, aku bahkan iri dengan teman-temanku yang melakukan tugasnya dengan baik dan benar, yang bisa melindungi payudara dengan seutuhnya.

      Kemarin teman-teman ribut menggosip karena bra yang pertama kali dipakai oleh Silvy tiba-tiba bicara, ia bercerita dengan menangis. Ia adalah bra yang sering dipakai Silvy ketika payudaranya mulai tumbuh, bra itu bermotif tokoh kartun Tweety, seekor burung parkit yang imut. Silvy bahkan tidak pernah melepas bra tersebut karena itu adalah kebanggannya dan bra yang ia beli pertama kali dengan uang sakunya sendiri ketika ia masuk SMP. Ayah Silvy yang sangat keras sangat melarang Silvy walau hanya untuk berteman dengan laki-laki, ayahnya khawatir kalau  ia akan menjadi ibunya yang suka berganti-ganti laki-laki. Suatu ketika Silvy jatuh cinta pada temannya sekelasnya, Silvy yang sangat itu masih kelas satu SMP suka meminta foto-foto teman laki-lakinya. Dengan alasan agar besok ketika lulus ia tidak akan melupakan teman-temannya. Dengan cara itu ia akan mendapatkan foto teman yang ia sukai. Ayahnya yang selalu diliputi rasa khawatir mendapati Silvy menyimpan banyak foto laki-laki. Ayahnya marah, namun Silvy tidak dihajarnya, Silvy bahkan diberi tontonan yang menarik. Film porno. Smabil menonton ayahnya berkata bahwa Silvy tidak boleh jatuh ke tangan laki-laki lain. Kekecewaan ayah Silvy terhadap ibu Silvy ia lampiaskan terhadap Silvy yang sangat mirip ibunya. Ayahnya dulu hanya sempat bercinta satu kali saja, sampai Silvy lahir ayahnya pun sendiri. Dan suatu saat, dengan mempelajari film tersebut maka Silvy harus melayani ayahnya sperti yang ada dalam film tersebut.

      Aduh! Kenapa laki-laki ini diam-diam mengarahkan kamera handphonenya ke arahku? Sial! Silvy sadarlah, aku akan difoto!! Aku kemudian teringat juga akan certa bra warna krem sahabat gosipku, dulu setelah Silvy menonton film porno itu dan setelah Silvy berpacaran, Silvy mempraktekannya dengan pacar kecilnya yang sudah kenal nafsu di dalam pos kampling ujung desa Barongan. Desa legendaris tempat asal kesenian Barongan. Mereka tidak beralas apa-apa, hanya dengan modal nafsu saja, tempat pun tak masalah untuk melakukannya. Pada saat ini, kata sahabatku, bra motif Tweety makin keras tangisnya, tapi ia terus melanjutkan ceritanya. Bra yang baru saja dicuci Silvy, dalam waktu setengah jam lusuh digerayangi tangan kecil yang terampil, pacarnya lallu menyelipkan penisnya yang sudah menegang diantara payudara kecil yang masih memakai bra. Setelah itu, Silvy gantian mempertunjukkan hasil belajarnya. Tanpa ragu-ragu, Silvy membuka semua pakaian yangmenempel di tubuhnya, pacarnya pun demikian. Silvy pun jebol, namun tanpa di sangka pacarnya mengeluarkan spermanya pada cup bra bermotif Tweetynya dengan alasan agar Silvy akan terus mengingat dirinya. Memang, bra Silvy tidak pernah melupakan hal itu. Semenjak saat itu, bra Tweety tidak pernah dipakai Silvy dan sejak saat itu pula, Bra itu tidak pernah bicara dengan pakaian dalam yang lain.

      Entah kenapa Silvy selalu membiarkan aku merasa risi karena gerangan tangan teman lelakinya. Laki-laki yang disamping itu saja sudah risi aku dilihatnya. Kalau aku punya mulut, aku akan berteriak kalua aku hanya ingin melindungi payudara, bukan dilihat, digerayangi, dibasahi dengan air liur atau hal-hal yang menjadikanku lepas dari apa yang aku lindungi! Kalau aku punya tangan maka aku akan menusuk kedua mata laki-laki yang dengan sengaja memotret aku dengan handphonenya! Apalagi kalu aku punya kaki, maka akan panjang urusannya. Aku akan menendang penisnya yang pasti sudah menegang itu sampai bengkok!!

      Hampir setiap Silvy memakai aku, maka malamnya ia akan mabuk dengan teman laki-lakinya lalu aku terlempar melayang. Tapi dari sekian banyak Silvy melaukan hal itu, aku tidak pernah mendapati Silvy melayani ayahnya. Mungkin hal ini tidak akan terjadi.

      Di almari, tapi sap yang berbeda ada bra yang seukuran denganku, ia sudah cacat. Salah satu talinya hilang, dan kawatnya ada yang lepas. Ia bercerita dengan sesama kami dengan suara yang aneh, tapi sekilas aku pahami kalau Silvy bebas melakukan apa saja yang penting ayahnya bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Akankah hal itu terjadi? Aku benci terhempas dari payudara yang aku lindungi. Lebih baik aku mencium bau keringat Silvy yang terus menetes ketika berkeringat, dan sekali lagi! Lebih baik aku basah dan bau karena keringat Silvy, bukan karena air liur! Apalagi air liur ayahnya!

      Tidak terasa, seperempat jam lagi aku sampai di Semarang, sudah sampai di Sayung ternyata. Dan akhirnya Silvy menutupiku dari pandangan laki-laki itu. hei ada telfon, aku kenal suara itu, itu-itu-itu suara ayahnya, apakah malam ini ia akan melakukan hal itu dengan ayahnya? Agh! semoga saja tidak! Atau karena itulah aku dipakai? Aduh! Aku bra! Bukan alat penambah nafsu birahi. Tapi, oh... ternyata tidak, ayahnya hanya bertanya sampai dimanakah bus yang Silvy tumpangi. Lebih baik aku mengingat lagi ketika ada celana dalam G-String miik Silvy berkoar-koar bahwa Ia hanya dipakai Silvy ketika berhubungan dengan pacarnya yang mirip Baim Wong. Seketika itu aku hanya tertawa, jadi benda yang tidak jelas fungsinya saja bangga, ia kan hanya digeser-geser saja ketika Berhubungan. Entah jadi celana dalam, entah jadi penghalang.

      Secinta apapun Silvy kepadaku, aku tetap tidak suka dengannya karena ia membuatku tidak berguna, hanya menjadi barang yang sering terlempar. Dulu pernah juga Silvy pulang kekosnya tanpa menggunakan aku, ia pulang dalam keadaan mabuk, dan ia meninggalkan aku di hotel tempat ia menginap bersama laki-laki. Entah siapa. Pada saat itu aku sudah sangat senang karena aku tidak akan hilang, tidak terpakai lagi. Buatku hal itu lebih baik dari pada terus merasakan ketidakbergunaanku karena nafsu laki-laki. Tapi tiba-tiba Silvy mengambilku lagi, membawaku pulang dan langsung mencuciku. Huh! Sial! Kata teman-teman aku adalah bra yang paling mudah menambah gairah laki-laki karen warnaku hitam dan bentukku yang simple tanpa ada renda-renda yang bikin ribet. Aku benci kesimpulan itu.

      Hei! Sudah sampai Terminal Terboyo. Aku sudah sampai semarang. Emtah dengan siapa lagi Silvy akan berhubungan. Ayahnya sudah menunggu Silvy semenjak ia telpon ketika Silvy masih berada dalam bus.

      Kata-ayahnya membuatku ingin dan hancur; “Ayah sudah memboking kamar, ada Tequila dingin di sana. Siap kan?”. Silvy hanya mengangguk sambil tersenyum, dan mereka pun melaju.

*cerpen ini pernah dimuat dalam antologi puisi dan cerpen Hikayat Mengaji yang diterbitkan oleh FASINDO pada tahun 2010
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Sedikit Tentang Kami



Teater emper kampus, sebuah kelompok seni teater yang berbasis di lingkungan kampus. Dirintis mulai tahun 1976 dan mulai ditentukan tanggal berdirinya terhitung dari tanggal 5 Agustus 1981, dan mencoba terus konsisten untuk terus berproses mengikuti waktu dan sesekali melawan waktu.

Media Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Arsip

Categories

  • cerpen
  • esai
  • labnas
  • Lakon
  • naskah
  • prosa
  • puisi
  • puisisemua
  • review pentas
  • teater emka
  • Video

Postingan Populer

  • Review Pentas Teater Kaplink
  • Teater Tikar : Mengancam Kenangan
  • PENTAS KOLABORASI INDONESIA & AUSTRALIA - ONTOSOROH
  • ULANG TAHUN KE-35 TEATER LINGKAR PENTASKAN KALA BENDU
  • TOPENG-TOPENG

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates