• Home
  • Menilik Teater Emka
  • Contact
    • Facebook
    • Instagram
    • twitter
xx xx x Email

Teater Emka

 

Semarang - Minggu (24/5) Diskusi asyik malam itu diakhiri dengan rintik hujan yang perlahan semakin ramai. Tak mau kalah, halaman kantor Dekase pun ramai dipenuhi pengunjung. Termasuk dalam rangkaian perayaan Hari Teater Sedunia malam itu, sajian pentas Meilankolia racikan kolektif Meramu: Dapur Pertunjukan menjadi hidangan yang paling dinantikan. Terkhusus aku dan anak-anak Emka lain, semakin semangat menonton pentas ini karena tiga dari lima aktornya adalah anggota Emka.

Terpatri dalam judulnya, pentas ini menjunjung isu Tragedi Mei 1998, menaruh fokus pada pemerkosaan massal perempuan etnis tionghoa. Meramu: Dapur Pertunjukan memang kerap membawakan wacana ini. Pentas ini nantinya akan ditampilkan dua kali. Ini kali pertama, di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang; dan yang kedua akan ditampilkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, berturut sehari setelah yang pertama. 

Melihat sekilas tata panggung, hampir dapat disimpulkan bahwa sutradara Nila Dianti mengusung teater non-konvensional. Hanya ada dua kursi, satu buah sapu, dan lembar-lembar teks berserakan di lantai. Benar saja, saat lampu dimatikan, di hadapan penonton adalah visualisasi sayur pare hijau segar dan bunga kecombrang merah kusut (aku baru tahu ini namanya rujak pare, membahasnya dan sejarahnya di Semarang mungkin akan menghabiskan satu essai sendiri), saling bergantian keluar dari pancaran proyektor. Pancaran sinar remang-remang ini menjadi satu-satunya pencahayaan yang digunakan, tidak menghitung cahaya rembulan yang ditutupi awan hitam. Menghantam tubuh aktor langsung dari depan selevel dada, tata cahaya ini menghasilkan siluet-siluet tajam serta visual yang kontras. Membangun hawa gelap dan mencekam. Suasana ini yang nantinya konsisten dimainkan sepanjang pertunjukan.

Awal pertunjukan, keempat tokoh perempuan yang diperankan oleh Avril, Nafisa, Najla, dan Susan; terlihat melakukan kegiatan sehari-hari dengan mood dan ekspresi masing-masing yang unik. Ada yang menyapu, menggambar, merangkai bunga juga jurnal. Suara tangisan mulai terdengar lirih, begitu lirih sampai hujan Mei dapat menyapunya hilang kapan saja. Kesamar-samaran suara ini membumbui pentas hingga akhir, menambah lapisan kesedihan. Merupakan keputusan yang cerdas membuat ilustrasi ini sukar didengar. Simbolisasi tidak hanya dilakukan melalui visual, tetapi juga lewat suara, bagaimana tangisan-tangisan korban ada namun yang dimintai tolong menutup telinga. Pemilihan bentuk panggung tapal kuda juga memperkuat efek hopelessness, membuat seolah-olah kita penonton mengerumuni kesunyian keempat aktor di panggung.

Mengangkat wacana yang begitu berat, tak ayal pentas ini kental akan elemen Brechtian. Tanpa basa-basi, keempat aktor membacakan catatan-catatan kekejaman yang dialami para korban. Bukan deklamasi ataupun dramatic reading, yang ada hanyalah informasi pahit dan gamblang. Fakta-fakta pahit  yang kita sukar menerimanya. Saat-saat di mana kemanusiaan hilang digantikan dengan kebuasan nirmoral. Aku bergidik ngeri dibuatnya. Aksi para aktor juga punya andil besar mengemukakan statement ini. Mereka menggerakkan tubuh mereka penuh empati dengan gaya yang sureal, yang aku tangkap sebagai perwujudan emosi primordial: ketakutan, keputusasaan, kesedihan, amarah, sampai kehampaan. Kedua kursi menjadi elemen penting sebagai media naratif. Performa aktor berhasil memanfaatkan properti simpel ini untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Tak kalah penting, bagian akhir pentas di mana karakter pria (Nazih) masuk. Diksi yang dipilih serta delivery-nya menjadi tamparan keras. Menutup pentas dengan kejutan yang berkesan.

Kesukaran adalah satu kata yang aku dapatkan dari menonton pentas ini. Memang tujuannya bukanlah hiburan sederhana. Yang dibawakan adalah topik pahit, yang  enggan kita terima, dan pentas berhasil memerangkap penonton dalam kesukaran itu. Sayangnya, pesan-pesan yang disampaikan teredam oleh vokal aktor yang kalah oleh suara hujan. Beberapa kali aku harus memajukan muka  dan mengernyitkan mata memikirkan kata-kata apa yang barusan aku tangkap. Selain itu, terdapat inkonsistensi dalam ekspresi wajah yang ingin ditampilkan para aktor. Mimik wajah Nafisa dan Susan menurutku kurang ekspresif, kontras dengan kedua aktor perempuan lain yang luwes memainkan ekspresi mereka. Pun ke-kurangekspresif-an mereka juga berbeda. Susan menunjukkan wajah penuh kekosongan yang hampa, masih seirama dengan suasana pentas. Namun, Nafisa lebih kelihatan seperti orang bingung. Kikuk, seperti orang yang tak tahu ia di mana. Mungkin saja ini intensional, tetapi menurutku keputusan ini kurang cocok dengan warna pentas yang dibawakan. 

Secara menyeluruh, pentas ini sukses besar menyampaikan maksudnya, juga memantik diskursus, ditandai dengan diskusi pascapentas yang sangat aktif. Cara-cara baru dalam mengekspresikan pesan juga kudapatkan, memperkaya khazanah keteateranku pribadi.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


 
 

Ditulis oleh : Iman Widimulya

Senin (19/10) gedung kepemerintahan Semarang mendadak ramai dikunjungi orang-orang yang ingin menonton pementasan Teater Tikar. Ya, Wisma Perdamaian dipilih teman-teman Teater Tikar sebagai akhir perjalanan dari pentas kelilingnya. Setelah Purwokerto, Tegal, dan Solo, akhirnya mereka mendaratkan kakinya di Semarang. bisa dibilang pementasan Teater Tikar kemarin sukses, dengan banyaknya antusias penonton yang hadir di gedung Wisma Perdamaian kemarin.
Naskah “Mengancam Kenangan” karya Iruka Danishwara yang lalu digarap oleh Ibrahim Bra selaku Sutradara dalam pementasan ini menyajikan fragmen-fragmen mengenai sebuah “kenangan” itu sendiri. Penonton disajikan dengan berbagai adegan yang cukup menyita pikiran, perasaan, dan jiwa dalam durasi 1 jam pementasan tersebut. Bagaimana tidak, adegan menusuk sebuah manekin yang dilakukan oleh Imam Machfudz cukup membuat penonton ataupun saya mengerutkan dahi. Perasaan takut, heran, ataupun kagum menjadi satu. Selain itu dimana Bra selaku sutradara mengemas sebuah kenangan masa kanak-kanak dengan bermain petak umpet lumayan membuat penonton kembali mengingat masa kecilnya.

Namun dibalik suksesnya pementasan Mengancam Kenangan yang disajikan Teater Tikar tidak luput dari berbagai macam kekurangan. Penonton dipaksa mengikuti permainan dalam tempo lambat. Tidak hanya itu, saya merasa sangat terancam ketika menyaksikan pementasan tersebut. Terancam dalam artian saya tidak bisa menikmati pementasan dikarenakan Vocal pemain yang tidak begitu jelas, dan lagi penggunaan Bahasa-bahasa puitis yang penyampaiaanya belum dapat dinikmati ataupun dimengerti. Kelima aktor masih terlihat belum paham akan dialog yang dibicarakannya, sehingga permasalahan yang disampaikan tidak mengenai sasaran.



 (Foto by : Iman Widimulya) 

Dan lagi pemahaman mengenai kenangan dari para punggawa Teater Tikar terlalu jauh didalam ekspetasi penonton. Seperti yang disampaikan Anton Sudibyo dalam diskusi usai pentas tersebut. Anton mengatakan “kenapa Teater Tikar membicarakan tentang kenangan? yang bahwasanya kenangan lebih identik dengan Cinta”. Dan beda lagi dengan yang dikatakan oleh Daniel Godan “menurut saya dalam pementasan ini Sutradara belum kawin dengan si penulis Naskah, sehingga banyak miss dalam eksekusinya”. Ditambah lagi dengan konsep pertunjukan non-realis, pemahaman simbol disini masih terlalu vulgar. Dimana suasana panggung tidak bisa diciptakan disini, para aktor masih terasa kesulitan dalam penyampaiannya.

Di sisi lain saya puas menonton pementasan ini, dikarenakan musik yang ditawarkan oleh teman-teman Teater Tikar cukup brilliant. Sukses untuk Teater Tikar, semoga ini bukan sekedar kerinduan dalam menginjakan dunia panggung lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Ditulis oleh : Ahmad Fauzi

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ditulis oleh : Ahmad Fauzi





SEMARANG - Kamis (9/15) pentas produksi ke-35 dengan naskah "Orang Kasar" yang dipentaskan oleh teater Getar dengan sutradara Anang Fesbuk dan astrada Yusuf Ali di Auditirium Kampus 1 UIN Walisongo. 

Sekilas mengenai naskah Orang Kasar Karya Anton Chekov. Naskah ini berisi kisah seorang janda yang ditinggal oleh suami tercinta yang meniggalkannya dengan gelimangan hutang. Hidup sang janda terusik ketika sang penagih hutang datang. Si janda enggan membayar karena merasa ia tak meminjam dan memakai uang tersebut. Akhirnya perseteruan antara si janda dan lelaki penagih hutang itu pun terjadi sangat histeris, humoris, sekaligus romantis. Si janda berusaha keras untuk menembaknya. Namun begitu, si janda tak bisa menggunakan senjata tersebut. Karena merasa aneh, si penagih hutang malah mengajari si janda cara memakai senjata yang benar. Alhasil mereka saling beradu pandang dan muncul perasaan yang disebut jatuh cinta. Ya, si penagih hutang jatuh cinta kepada si janda.

Pada pementasan kali ini sutradara menyebutkan bahwa naskah ini  dipentaskan dengan tujuan untuk menghibur penonton dengan naskah lama. Sehingga naskah ini lebih dikemas dengan guyonan-guyonan dari tokoh penagih hutang. Dengan lihainya para aktor mengeksplore panggung dengan baik, hanya saja masih banyak kekurangan dalam pementasan kali ini, seperti Setting yang sangat lemah, dimana tidak dijelaskan letak dan tahun dari yang dipentaskan.Banyak juga logika panggung, terlebihnya di setting tidak dapat diterima oleh penonton. 

Pesan/isu yang akan disampaikan pun tidak sampai kepada penonton bahkan salah satu punggawa Teater Getar menyebutkan bahwa memang tidak ada pesan yang ingin disampaikan, "saya hanya ingin menghibur, Kami tidak menawarkan apapun pada pertunjukan ini. Kalau boleh dibilang hanya lawakan saja”. Tiktok dialog antara tokoh janda dan penagih hutang pun tidak begitu enak didengar, terlebih emosi dari tokoh penagih hutang yang selalu tinggi membuat kesan monoton dan tidak enak didengarkan. Nampak juga kurangnya totalitas dari pemain, sutradara dan setting dalam penggarapan naskah ini.

ya meskipun pementasan ini sangat mengecewakan bagi teman-teman teater Semarang, setidaknya cukup menghibur bagi para penonton awam yang datang pada malam ini. 

Semoga teater getar lebih serius lagi dalam penggarapan selanjutnya. Karena yang dipentaskan adalah naskah realis maka totalitas dari sutradara, tokoh, dan tim produksi pun sangat diperlukan untuk mencapai kesuksesan pentas.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
                 Ditulis : Iman Widimulya


SEMARANG - Senin (15/12) kemarin tiba-tiba gedung Serbaguna SMA 1 Semarang ramai dikunjungi oleh pegiat dan penikmat Teater se-Semarang.

Pentas Produksi Teater Dipo Universitas Diponegoro ini menggelar pertunjukan yang bisa dibilang akbar karena banyaknya penonton yang memenuhi lokasi pementasan. Naskah "Elegy"  yang diadaptasi dari naskah monolog "Boneka Dalam Kaca" karya Choerul Ashar Hamid.

"Elegy", pementasan berdurasi 1 jam ini membesut genre Drama Musikal. Bercerita tentang penindasan seorang wanita yang hanya dimainkan oleh laki-laki seperti boneka. Protes keras yang disuarakan kaum wanita kepada laki-laki bahwa mereka bukanlah boneka,perlakukanlah wanita seperti manusia lainnya. Bukan seperti boneka yang ketika sudah bosan dimainkan lalu dibuang.
Sayangnya pada pementasan ini penonton selalu dibiarkan menunggu lama untuk masuk ke sesi pementasan dan adegan,sehingga rasa yang sempat dibangun oleh penonton selalu terputus begitu saja. Selain itu inilah permasalahan yg kerap terjadi pada beberapa teman-teman teater Semarang. Keaktoran dan rasa,sebuah masalah dasar dalam pementasan selalu luput dalam beberapa proses Teater Dipo. Sehingga penonton selalu dibiarkan pulang dengan perasaan 'tidak puas'. Dan yang membuat penonton bertanya-tanya kenapa pementasan 18+ ini diadakan di lingkungan sekolah ?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Orang Asing

 


SEMARANG - Rabu malam kali ini (12/02) Taman Budaya Raen Saleh kembali diramaikan oleh Teater Kaplink Udinus. Disana, Teater kampus yang berdiri pada tahun 1997 ini mengadakan pementasan teater dengan membawakan naskah Lithuania karya Rupert Brooke yang disadur oleh D. Djaya Kusuma.


Pementasan ini bercerita tentang orang asing yang tiba-tiba bertamu dan izin menginap di sebuah rumah di pinggir hutan karena sudah kemalaman dan tersesat dalam perjalanannya. Orang asing tersebut digambarkan sebagai seorang yang sombong dan kurang memiliki sopan santun. Kesombongannya ditunjukkan dengan caranya memperlihatkan harta kepunyaannya di depan keluarga si pemilik rumah. Karena banyak kejanggalan dari sikap orang asing tersebut, keluarga si pemilik rumah yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan seorang putri yang bernama Ully mencurigai orang asing tersebut sebagai perampok yang hendak lari ke hutan agar tidak tertangkap warga. Kecurigaan mereka bertambah karena orang asing itu membawa sebuah koper berisi uang yang jumlahnya tidak sedikit. Dengan alasan hal tersebut, ditambah lagi karena himpitan ekonomi, Ibu dan Ully akhirnya membunuh si orang asing dengan menggunakan parang milik bapak. Di akhir cerita terungkap fakta bahwa orang asing tersebut adalah anak laki-laki Ibu dan bapak pemilik rumah yang minggat saat berumur 13 tahun.
Seperti yang diungkapkan oleh Daniel (ISI Jogja), salah satu penonton yang mengikuti diskusi seusai pentas, sutradara kurang berhasil membawakan latar Sibolga Sumatra Utara dengan hanya menampilkan ‘sepenggal’ kebudayaan saja. Bahkan saat para aktor dipersilahkan untuk menjelaskan latar belakang masing-masing tokoh yang dimainkan, tidak ada tokoh yang murni berasal dari daerah Sibolga. Sangat disayangkan keberanian sutradara untuk mengangkat latar yang tidak biasa ini kurang memuaskan dengan hanya memunculkan ‘nama’nya saja. Namun, tidak dapat dipungkiri, secara visual pementasan ‘Orang Asing’ ini cukup menarik. Ya, terlepas dari semua itu, secara keseluruhan  pementasan ini cukup menghibur. (na)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ditulis oleh: Iman Widimulya



Minggu (18/8), pukul 17.00 penonton sudah mulai memadati area Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah  (TBJT) Solo - Jawa Tengah . Penonton yang hadir bukan hanya masyarakat lokal tetapi ada beberapa turis yang ikut serta menyaksikan pementasan "Ontosoroh" ini, bahkan seorang penonton dari Jakarta rela menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk sekedar berpartisipasi menyaksikan atmosfir disini.

"Ontosoroh" adalah karya kolaborasi Ade Suharto (Koreografer, Penari) dan Peny Candrarini (Komposer, Pesinden/Vokalis, Penulis lagu) bersama 3 musisi muda asal kota Solo yaitu Plenthe, Prisha Bashori Musthofa, dan Iswanto. Pementasan ini adalah 'Preview Seasons' menjelang Australia Premiere di OzAsia Festival, Adelaide, Australia Selatan pada tanggal 16 & 17 september 2013.

Didukung oleh tim Artistik dari Australia & Indonesia "Ontosoroh" mencoba menafsirkan kedalam tokoh utama Nyai Ontosoroh yang diambil dari "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan ini menggunakan Teks, gerak, suara serta idiom idiom seni pertunjukan lainnya untuk mengekspresikan beragaman aspek kepribadian Ontosoroh yang kompleks.

Pementasan ini didukung dengan tata lampu yang sederhana tapi memukau, Ilustrasi yang megah. Tapi kekurangan pada pementasan ini adalah eksplorasi pada tokoh Nyai Ontosoroh yang kurang dominan sehingga menyebabkan pementasan ini hanya seperti sekedar konser musik yang dibarengi dengan pentas tari.

Sayangnya pementasan ini tidak terlalu ramai di kunjungi penonton, tapi pementasan ini sudah memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat pecinta dan penikmat seni di kota Solo.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
SEMARANG - Meski sempat terhenti karena hujan deras selama 45 menit, pentas "Leng" Teater Emka Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip terus berlanjut hingga Minggu (14/7/2013) dini hari. Pementasan di tengah kampung di RT 2 RW 3, Desa Tegalsari, Kecamatan Tugurejo, itu membuat mata puluhan warga terjaga.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

SEMARANG - Makam Kiai Bakal pada Sabtu-Minggu (13-14/7) dini hari tadi ramai pengunjung. Jemaat dari berbagai kalangan itu datang untuk meminta berkah dari pesarean keramat di Desa Bakalan. Tapi kekhusyukan doa yang dipimpin juru kunci makam, Pak Rebo, terganggu oleh deru mesin pabrik.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Dewi Sri Menggugat Dongeng yang tak lagi dituturkan
oleh: Asyhar Sanglusuh


“Nduk, kowe ning endi? Iki lho segamu dipangan sek. Sega iki dongeng sing kudu dadi dagingmu.”



foto: asyhar sanglusuh/teater emka

SEMARANG --- Kalimat berbahasa jawa tersebut merupakan penggalan dialog yang diucapkan seorang tokoh, Ibu, kepada anaknya yang belum selesai makan, tapi sudah pergi bermain ke sawah bersama teman-temannya untuk mencari keong. Penggalan dialog itu adalah dialog pembuka pentas kolaborasi antara Teater Jejak ISI Surakarta dengan UKM Kesenian Jawa Undip di Joglo PKM Undip yang berada di jalan Imam Bardjo, Semarang, pada Jumat (29/3) malam. Pementasan tersebut diselenggarakan untuk memperingati hari teater dunia yang jatuh pada tanggal 27 Maret lalu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pentas Teater Kaplink pada tanggal 13 Februari 2013 yang berjudul Bloody Sunrise dengan sutradara Bowo ini menggunakan naskah karyanya sendiri. Naskah ini mengisahkan seorang Jugun Ianfu pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, yaitu sekitar tahun 1942-1945. Jugun Ianfu merupakan praktik prostitusi sistematis yang dijalankan oleh militer Jepang selama perang pasifik.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 
"Tapi hati kita tidak boleh buta ya mbak." Penggalan dialog Mentari dalam lakon Tumpas Kelor

 
Senin, 4 Juni 2012, Teater Dipo telah sukses mementaskan “Tumpas Kelor” karya Mulyani M Noor dengan sutradara Nazi. Pertunjukan yang berdurasi  kurang lebih satu jam ini dimulai pukul 20.00 WIB di Gedung Serba Guna, TBRS. Pertunjukan ini bercerita tentang idealisme yang diperjuangkan oleh sebagian orang dalam melawan segala bentuk  kediktatoran yang muncul di negeri mereka. Saya sendiri kurang menikmati pertunjukan dari Teater Dipo.

Entah karena ada beberapa masalah teknis yang kurang tergarap, atau kurangnya pengetahuan saya dalam memahami pertunjukan tersebut, atau mungkin penyampaian sutradara yang memang dikemas menjadi pertunjukan seperti itu. Yang bisa saya tangkap, Tumpas Kelor menceritakan tentang sebuah keluarga yang mempunyai tiga orang anak yang dua diantaranya , Bintang dan Mentari, mengalami gangguan.  Mentari adalah penderita cacat ganda, yaitu tunanetra dan tunadaksa. Sedangkan Bintang mengalami gangguan psikologis. Kemudian ada dua orang teman Bintang yang mendatangi rumah mereka. Sayapun tidak mengerti apa tujuan dari kedatangan dua orang tersebut. Intinya, pada adegan awal, saya kurang bisa menangkap inti cerita. Konflik muncul ketika seorang penguasa beserta pengawalnya mengancam kedua orangtua dari Mentari, Bintang, dan Bulan. Menurut penguasa tersebut, keluarga itu telah mempunyai idealis sendiri yang bisa mengancam keberadaan penguasa itu. Akhirnya dengan segala kediktatoran penguasa itu, dia memutuskan untuk menghabisi semua anggota keluarga tersebut. Di akhir adegan, dan yang menurut saya paling menarik, akhirnya penguasa dan kedua pengawalnya di bunuh oleh orang-orang tak dikenal. Simbol background hitam digoyangkan dengan beberapa tepukan tangan dan suara-suara riuh dari orang-orang, dipilih oleh sutradara untuk menyimbolkan kematian penguasa ditangan rakyat.

Setelah pertunjukan usai, anggota Teater Dipo mengadakan diskusi  dengan penonton  di teras Gedung Serba Guna, TBRS. Beberapa penonton mengeluhkan perpindahan setting adegan yang kurang jelas. Nazi sebagai sutradarapun belum menjawab secara jelas pertanyaan yang diajukan penonton. Selain itu masalah-masalah teknis seperti, dialog yang kurang tersampaikan, kesalahan lighting, dan juga lamanya perpindahan adegan, menurut saya seharusnya bisa diakali dengan penggarapan yang lebih rapi. Sehingga ada beberapa penonton yang masih belum paham betul maksud pertunjukan Tumpas kelor itu akan dibuat seperti apa.

Tapi saya tetap salut atas kerja keras teman-teman Teater Dipo, karena banyak sekali penonton yang telah datang mengapresiasinya. Walaupun ada beberapa penonton yang sangat mengganggu penonton lain yang menikmati pertunjukan tersebut, seperti sumber cahaya dan sumber bunyi dari handphone mereka, dan juga teriakan-teriakan penonton ditengah-tengah pertunjukan. Selain itu, ilustrasi dari pertunjukan lain (baca : Wonderia) sepertinya tidak sesuai dengan cerita Tumpas Kelor.  Mungkin hanya itu yang dapat saya tulis setelah menikmati sajian teman-teman Teater Dipo dengan naskah Tumpas Kelor. Ini hanya ulasan subjektif saya. Sekali lagi selamat untuk Teater Dipo.

Tetap berproses dan Salam Budaya!!

Oleh: Dian Indriani
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ditulis Oleh: asyhar sanglusuh

Foto: Babas


SEMARANG – Malam itu jalanan masih basah dengan rintik hujan yang tak reda dari siang hari. Beberapa kelompok orang tetap semangat untuk datang ke ruang seminar Unisbank, yang terletak di belakang pom bensin pandanaran tersebut. Tujuannya tak lain adalah menyaksikan pertunjukan teater. Sabtu malam itu, 17 Desember 2011, adalah Teater  Cabank yang melakukan pementasan dengan naskah Sang Mandor karya Rahmn Arge dan disutradarai oleh Romi.

Pementasan dibuka dengan sebuah pembacaan puisi yang kemudian mengantar penonton pada cerita Sang Mandor itu sendiri.

Sang Mandor menceritakan tentang kehidupan seorang Mandor Kapal (pelaut) yang telah berada di ujung usia. Tokoh Mandor yang diperankan oleh Tobi merupakan seorang mandor kapal yang sudah tua dan sakit-sakitan. Dia mempunyai seorang istri, dan tiga orang anak, yaitu Juki (Atenk), Udin (Item), dan Yanti (Ana). Ketiga anaknya itu hanya mementingkan dirinya masing-masing. Hingga pada suatu waktu, mereka saling berebut harga diri di hadapan Sang Mandor. Tetapi malang bagi sang Mandor, ketiga anaknya tersebut tidaklah patut untuk dibanggakan. Bahkan saking kesalnya kepada ketiga anaknya itu, Sang Mandor berujar, “Jangan pernah menadahkan tangan, kecuali kepada Tuhan”. Perkataan itu merupakan bentuk kekesalan Sang Mandor, karena anak yang dia besarkan dari kecil hanya mampu menghabiskan harta saja tanpa mau berusaha. Untunglah dia masih mempunyai seorang istri, Yayuk (yang diperankan oleh Sarah), yang sangat setia menemaninya.

Pementasan yang secara teknis kuarang begitu mengesankan ini membawa pesan moral yang berlatarkan masyarakat di daerah pantai, yang memang  secara konsepsitual merupakan masyarakat yang lugas, tanpa basa-basi, boros, dan keras. Namun, dalam naskah ini tidak serta merta menghadirkan konsep-konsep seperti yang telah tersebutkan tadi. Melainkan pementasan ini menawarkan sebuah realita lain yang terjadi di masyarakat tepi laut, khususnya nelayan, meskipun dalam kemasannya tetap saja konsep-konsep tadi menjadi bagian yang tak terlepaskan. Seperti, kegemaran anak-anak Sang Mandor yang suka menjual harta milik orang tuanya hanya untuk kesenangannya, serta kehidupan Sang Mandor yang sering melaut dan banyak bermain perempuan.

Selain pesan moral yang dibawa oleh naskah ini, hal lain yang menarik adalah pementasan ini juga dipentaskan di kampung. Tepatnya di Dusun Persil, Ngaliyan, pada tanggal 11 desember 2011. Ini merupakan kali pertama Teater Cabank melakukan pementasan teater di kampung. Tobi, yang merupakan salah satu anggota sekaligus pemain dalam naskah ini menerangkan bahwa pementasan yang dilakukan di kampung tersebut cukup menyedot animo warga sekitar.

Dalam diskusi setelah pentas pun, ada salah seorang penanya yang menanyakan mengenai pementasan di kampung tersebut. Jawaban yang diberikan pun cukup menarik. Pementasan pada saat di kampung sangat berbeda sekali dengan yang dipentaskan malam itu. Perubahan besar pada naskah disesuaikan denganisu yang terjadi di kampung tersebut. Isu itu adalah mengenai pencemaran yang dilakukan oleh sebuah pabrik yang berada di sekitar pemukiman tersebut. Warga yang ada di sana hanya bisa menerima dengan lapang, kondisi yang mereka alami. Kemudian yang dilakukan Teater Cabank pada waktu itu adalah memasukkan isu tersebut dalam naskahnya dengan sedikit memberi gambaran kepada warga  mengenai bahaya yang mengancam mereka. Respon warga pun positif. Akan tetapi, pementasan pada waktu itu terasa kurang mengena karena pihak pabrik tidak ada yang menyaksikan, sehingga mereka pun tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.

Terlepas dari apa yang terjadi di kampung, dua pementasan yang dilakukan oleh Teater Cabank itu merupakan upaya pembandingan antara pementasan yang murni atau sama yang ada dalam naskah dan pementasan yang telah mengalami proses adaptasi dan penyesuaian ruang.  Hal seperti ini sudah sering atau bahkan menjadi bahan utama setiap penggarapan. Jadi tinggal bagaimana kita menyeleksi sebuah permasalahan yang nantinya kita kemas dalam sebuah pertunjukan sesuai dengan ruang yang terkonsep. (sl)
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Ditulis Oleh: Babas



Naskah dengan Lakon Badut yang di pentaskan oleh Teater Air Tanah ini,pada tanggal 16 Desember 2011 dan meski sedikit molor ini, untuk ukuran teater yang baru pertama kali melakukan pementasan sudah cukup lumayan, ini dalam arti dapat menghibur penonton, bila kembali ke tujuan pertunjukkan, yakni untuk menghibur penonton. 
 
Meski banyak kekurangan dari segi teknis, seperti dari lighting, setting, dan keaktoran, pementasan ini cukup menarik minat beberapa penonton, meski banyak juga yang hadir karena paksaan, karena disana ada absen khusus untuk mahasiswa geologi itu sendiri. 
 
HTM yang terbilang cukup lumayan, yakni 10 ribu rupiah, sudah terbayar dengan sebungkus kacang godog dan segelas aqua. Di dalam diskusi, sutradara menjelaskan bahwa naskah ini mengangkat tentang kehidupan di dunia badut yang penuh kebohongan, “mungkin jika kita melihat para badut yang sedang bekerja, di raut mukanya penuh dengan kegembiraan, tetapi mungkin di dalam hatinya dia sedang mengalami masalah dan dia sedang bersedih” kata Eko Suko Wiratmoko sang Sutradara Pentas ini. Dalam acara ini juga di meriahkan oleh genjreng2annya dari Romusha, dan Musikalisasi Puisi dari Teater Dipo. Semoga di pementasan kedepan bisa lebih menyuguhkan pementasan yang lebih baik.





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Sedikit Tentang Kami



Teater emper kampus, sebuah kelompok seni teater yang berbasis di lingkungan kampus. Dirintis mulai tahun 1976 dan mulai ditentukan tanggal berdirinya terhitung dari tanggal 5 Agustus 1981, dan mencoba terus konsisten untuk terus berproses mengikuti waktu dan sesekali melawan waktu.

Media Sosial

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Arsip

Categories

  • cerpen
  • esai
  • labnas
  • Lakon
  • naskah
  • prosa
  • puisi
  • puisisemua
  • review pentas
  • teater emka
  • Video

Postingan Populer

  • Review Pentas Teater Kaplink
  • Teater Tikar : Mengancam Kenangan
  • PENTAS KOLABORASI INDONESIA & AUSTRALIA - ONTOSOROH
  • ULANG TAHUN KE-35 TEATER LINGKAR PENTASKAN KALA BENDU
  • TOPENG-TOPENG

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates