dan sang anak hanya mampu mencemplungkan sebagian dirinya menyusup perairan, sambil menerka-nerka mungkin ada partikel mayat dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menggendongnya – sedang menyusup masuk pori-pori kulitnya. dan sang anak hanya mampu menapak tanah sambil menerka-nerka mungkin di antara langkahnya, hitungan meter di bawah, ada seonggok kerangka dari seseorang yang ia kenal – yang pernah menimangnya – sedang di sana tanpa seorang tahu. sedang di sana bersenandung.
lihatlah pagi cerah dunia, anakku*
lihatlah mawar merah merekah, sayangku
kebetulan sang anak pun berjumpa dengan anak lain yang sedang tersungkur menangis pada sebuah nisan. sang anak heran mengapa anak lain ini tidak tampak bahagia meski seseorang yang anak lain itu kenal ada dalam pandangan. dan anak lain ini pun mengatakan bahwa seseorang pada nisan itu – yang dahulu meninabobokannya – adalah yang turut menumpas keluarga anak-anak lain dan membuangnya entah ke tanah atau laut mana. mendengarnya, sang anak teringat sesuatu. sesuatu yang merah kental pekat yang menyiksanya yang menempel pada dirinya dan mestinya ia tancapkan pada anak lain ini. namun… ketika anak lain ini berdiri, tampaklah merah pekat pun menempel padanya.
hening. angin membawa senandung mayat yang terlintas dalam benaknya tadi ketika mentari menyingsing.
secerah pagi indah hari depanmu
semerah mawar rekah harapanku
dan sang anak pun akhirnya merangkul anak lain ini. sang anak menangis. juga anak lain ini menangis.
pelan-pelan terdengar dari jauh gaung perang. sang anak dan anak lain pun pulang ke tempat masing-masing, mendapati kini giliran mereka untuk menumpas, melahirkan mayat-mayat lainnya demi bangsa.
duka derita kubawa setia
cinta dan cita lahirlah semua
dan sang anak pun kini merasakan dirinya perlahan merah sepenuhnya sambil menerka-nerka apakah dirinya dan anak lain itu akan menjadi mayat terhormat pada nisan atau mayat hina yang berakhir nyenyak entah di laut atau tanah mana.
menyinari hari mendatang, sayangku
jadilah putra harapan bangsamu.
dan sang anak pun membayangkan rupa anak-anak dari mayat-mayat yang akan ditumpasnya. ia membayangkan dirinya menghilangkan banyak nyawa dan raga demi menjadi ‘anak bangsa’.
* “Lagu Untuk Anakku”, oleh Dialita
Bercumbu Di Atas Sajak yang Bercinta
Oleh Rahmat Husein
Malam ini—langit seperti bangkai cahaya,
Suram, padam, berbau janji basi.
Ia berbisik tanpa suara:
Esok tak pernah benar-benar pagi.
Awan tetap setia berdiri,
Menatap cakrawala kusam
Dengan saku-saku doa yang bocor,
Menunggu sesuatu
Yang sejak awal tak berniat pulang.
Bintang-bintang mabuk oleh takdirnya sendiri,
Lelah berkilau untuk dunia
Yang hanya menengadah saat butuh.
Sementara bulan—
Menjual wajahnya tiap malam,
Bedak tebal menutup kehampaan,
Agar laku disentuh mata lapar.
Tak ada kata yang sanggup tertiup,
Sebab menunggu telah menjadi malapetaka.
Yang dinanti tak kunjung singgah—
Ia kekasih dalam kepala,
Pemuas yang bernama tapi tak pernah setia.
Ia—angin.
Licin, hangat, pandai merayu arah.
Datang membawa desir manis,
Pergi setelah perutnya penuh.
Semua yang bisu tahu:
Angin tak pernah setia,
Ia hanya singgah untuk menghisap.
Dari saku awan yang kesepian,
Dari niat lembut yang salah alamat.
Lalu awan bertanya,
Ke mana kau pergi?
Padahal jawabannya selalu sama:
Ke mana pun ada tubuh untuk bersandar,
Ke mana pun ada nafsu yang mau membayar.
Mungkinkah badai yang merayunya?
Bukan satu, bukan dua—
Sekumpulan tangan tanpa nama,
Menggenggam tanpa tanggung jawab,
Melepas tanpa penyesalan.
Dan guntur—bajingan yang bersuara lantang,
Memakai angin sampai habis,
Lalu menjual ceritanya
Ke arah mata angin lain.
Mengutuk busuk yang ia cicipi sendiri,
Seolah ludahnya tak pernah ikut mencemari.
Dari utara ke barat,
Kisah diperdagangkan.
Dari baik yang tak pernah utuh
Hingga melacur yang dinormalisasi—
Bukan hanya oleh angin,
Tapi oleh dunia
Yang gemar memanfaatkan
Lalu pura-pura jijik.
Karena di malam seperti ini,
Selalu ada tempat untuk bersandar,
Asal kau rela
Menjadi angin:
Tak punya arah,
Tak punya malu,
Dan tak perlu bertanggung jawab
Atas siapa pun yang kau tinggalkan beku.
Dosa
Oleh Rahmat Husein
Dia anak kecil yang tak
berdosa
Lahir ke dunia orang gila
dari nafsu sesaat
Rasa perih jadi teman
sepanjang nafas bertiup
Tanpa pernah bahagia
menjenguk sendunya
Dia yang menangis, meringis
pilu sendiri
Terluka oleh kasih yang tak
pernah hadir
Darah adalah selimut hangat
saat memeluk diri
Biru ungu ditubuh adalah
bukti cinta, katanya
Dalam keramaian yang
menyesak, ia hadir
Terbelenggu takut dari
kesepian rasa tak diterima
Merindukan pulang ke rumah
yang hilang
Dalam pencarian dia
kehilangan diri
TATIAN
Oleh Rahmat Husein
Kini
kita semua bersatu dalam kejenuhan,
Tuk
menari-nari di atas tanah orang mati,
Dipentaskan
pada negeri yang sakit,
Didampingi
musik dari ketidakadilan yang pilu,
Meriah
hingga suara kita tak lagi dianggap ada,
Begitu
meriah hingga mesti dipukul, ditangkap, sampai dibinasakan,
Tanpa
rasa bersalah oleh mereka yang berenang dalam hukum,
Mereka
yang mestinya melindungi kita yang rapuh,
Mereka
yang mestinya berdiri sebagai pahlawan di antara kita,
Kini
kemarahan dan kutukan memang pantas disuarakan,
Biarkan
itu berkumandang sampai angkasa tidak mampu lagi menampungnya.


0 komentar