Qurban Rasa

by - Mei 26, 2026



On The Age of Twenty

oleh Natasya Citra

 Hari ini adalah hari ulang tahun seorang gadis yang telah menjalani hidup selama 20 tahun


di dunia. Dia berdiri tegang di antara kue dan kado-kado. Bajunya apik dan riasannya cantik.

Meski begitu, jantungnya bertalu-talu tak keruan. Bukan debar kebahagiaan yang terasa

mengalir di tubuhnya. Gadis itu berusaha tetap tersenyum ketika orang-orang bergantian

menyalaminya memberi selamat, meskipun setiap senyum yang dia tarik terasa menyakitkan

di hati. Matanya digenangi air mata saat kedua orang tuanya memeluk dan mengecupnya

bergantian, dan menggumamkan doa-doa terbaik untuknya. Seharusnya gadis itu tertawa

bahagia sekarang, dikelilingi sanak keluarga dan sahabatnya. Seharusnya gadis itu

memamerkan senyum terbaiknya pada setiap orang yang ditemuinya. Namun semakin

banyak orang yang meniupkan kebahagiaan dan sukacita, semakin berat dan sesak perasaan

gadis itu.

Dia menunduk menatap kue cokelat ulang tahunnya, yang berhiaskan lilin imitasi

berbentuk angka 20. Api-apinya berpijar tenang, dan meliuk-liuk lincah seolah sedang

menertawakan gadis itu. Orang-orang bertepuk tangan riuh saat gadis itu meniup lilin seusai

mengucapkan permohonan dalam hati. Meski gadis itu tak yakin permohonan apa yang

terucap dalam hatinya. Kue cokelat itu dibagi-bagikan, anak-anak kecil tertawa-tawa riang

saling mencolek krim cokelat itu, para orang dewasa menggumamkan pujian atas enaknya

kue itu. Saat orang-orang teralih perhatiannya pada kue cokelat mereka, gadis itu diam-diam

pergi dari pestanya dan mengunci dirinya di bilik kamar mandi. Air mata yang menggenang

itu meluncur tanpa izin ke pipinya, merusak hiasan gadis itu. Dia membiarkan air mata lain

ikut menyusul meluncur pelan ke pipinya.

Gadis itu menangis dengan isak tertahan. Hatinya dipenuhi perasaan takut. Takut akan

dunia dewasa yang menantinya di depan. Takut akan tanggung jawab besar yang akan dia

emban. Takut akan harapan dan ekspektasi orang tua yang membebani pundak kecilnya.

Takut karena dia merasa belum membanggakan orang tuanya yang kian menua. Dan takut

akan realita keras yang akan menamparnya. Gadis itu merasa belum cukup kuat menghadapi

semua itu. Dia sedang tidak baik-baik saja dengan pikiran-pikiran dan ketakutan-ketakutan

yang mengerubunginya.

Saat gadis itu mendongak menatap cermin, wajahnya terlihat mengeluarkan retakan dari

jejak air matanya. Retakan itu semakin melebar dan riasan wajah gadis itu meluncur terjatuh

mengenai wastafel dan hancur berkeping-keping. Gadis itu mendongak kembali, dan

wajahnya yang terpatri di cermin menunjukkan wajah sesosok gadis kecil. Wajah pucat


bertaburkan hiasan telah hilang sepenuhnya, dan mata merahnya sehabis menangis berubah

menjadi binar polos mata seorang gadis kecil yang bersemangat di hari ulang tahunnya yang

ke 10. Figurnya yang berbayang di cermin telah berubah sepenuhnya menjadi gadis berumur

10 tahun.

Gadis kecil itu berkali-kali tertawa dan melompat-lompat, sedang berbahagia karena

umurnya telah menginjak usia 10 tahun. Ibunya berjanji jika umurnya sudah menginjak 10

tahun, gadis kecil itu boleh bermain bersama teman-temannya sedikit lebih larut dan

melewatkan tidur siangnya. Ayahnya juga menjanjikan sepeda roda dua untuk kado ulang

tahunnya. Gadis itu akhirnya tersadar, bahwa bayangan yang dilihatnya di cermin adalah

dirinya 10 tahun yang lalu.

Gadis kecil itu mengerling menatap cermin, dan tersenyum lepas seolah sadar sedang

diperhatikan oleh dirinya dari 10 tahun kemudian. Gadis kecil itu tak sabar menantikan masa

depan apa yang menunggunya 10 tahun kemudian. Dia yakin ada banyak hal-hal besar yang

menunggunya. Dan dia sangat bangga melihat dirinya telah berhasil tumbuh dengan

pencapaian yang dimilikinya. Gadis itu tersentak kaget, dan pantulan di cermin sudah

berubah kembali menjadi dirinya yang sekarang. Perasaan cemas tak keruan yang bercokol

dalam dirinya anehnya telah menghilang, bersamaan dengan air matanya. Dadanya kini

hangat oleh harapan dan keyakinan. Keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja. Keyakinan


yang diinginkan oleh dirinya 10 tahun yang lalu, bahwa dia akan banyak bertemu dengan hal-

hal besar dan baru ke depannya. Dan bahwa dia akan banyak belajar dari hal-hal tersebut.


Ingar-bingar para orang-orang diluar masuk ke telinga gadis itu, dan dia yakin orang-orang

mulai mencarinya karena pemeran utama pesta tiba-tiba menghilang.

Ya, tidak apa-apa, gadis itu meyakinkan dirinya sendiri. Dengan langkah mantap, dia

kembali masuk ke pestanya dengan perasaan jauh lebih ringan. Tidak apa-apa merasa tidak

baik-baik saja sekarang. Tidak apa-apa merasa takut dan lelah sekarang. Namun gadis itu

tetap ingat, masa depan yang penuh hal-hal besar dan kejutan sedang menantinya untuk

didatangi.



Kuning


oleh Zafira Fayya


Beribu saat dalam kenangan mencuat berantakan, kelebatnya

melecut warna-warni perasaan — bernanah-nanah mendarah

dan merintih-rintih perih. Ada yang berdebar mengisi

ricuhnya ruangan: tik-tok jam dinding, detik-detik

kritis, juga degup jantung kita berpesta pora tak karuan.


Di luar: kita pandang sore begitu renta, sementara

matahari bertengger setia pada pucuk-pucuk pepohonan.

Menguning cuaca dan kibaran bendera atas nama

perasaanku. Kata-kata jelma daun-daun kerontang yang

segera disanggit angin dan tak sampai pada pelataran —

atau pada siapapun.


Kita sepenuhnya tersesat sewaktu barat memanjangkan

bayang-bayang menuju atap ruang, sewaktu cinta membuat

kita terpencil dalam sekat, dan penciumanku tak lagi

menghidu bau tubuh kinasihmu.


Kumandang magrib memulangkan burung dan anakan

layangan. Langit lebam, begitu juga sepasang pipimu,

atau telapak tanganku — atau kita? Telah berpulang

kenang-kenang dalam kening yang senang dan yang bikin

pening. Telah berpulang aku dan kamu kepada yang bukan

kita, yang amat asing dan penuh denging.


You May Also Like

0 komentar