On The Age of Twenty
oleh Natasya Citra
Hari ini adalah hari ulang tahun seorang gadis yang telah menjalani hidup selama 20 tahun
di dunia. Dia berdiri tegang di antara kue dan kado-kado. Bajunya apik dan riasannya cantik.
Meski begitu, jantungnya bertalu-talu tak keruan. Bukan debar kebahagiaan yang terasa
mengalir di tubuhnya. Gadis itu berusaha tetap tersenyum ketika orang-orang bergantian
menyalaminya memberi selamat, meskipun setiap senyum yang dia tarik terasa menyakitkan
di hati. Matanya digenangi air mata saat kedua orang tuanya memeluk dan mengecupnya
bergantian, dan menggumamkan doa-doa terbaik untuknya. Seharusnya gadis itu tertawa
bahagia sekarang, dikelilingi sanak keluarga dan sahabatnya. Seharusnya gadis itu
memamerkan senyum terbaiknya pada setiap orang yang ditemuinya. Namun semakin
banyak orang yang meniupkan kebahagiaan dan sukacita, semakin berat dan sesak perasaan
gadis itu.
Dia menunduk menatap kue cokelat ulang tahunnya, yang berhiaskan lilin imitasi
berbentuk angka 20. Api-apinya berpijar tenang, dan meliuk-liuk lincah seolah sedang
menertawakan gadis itu. Orang-orang bertepuk tangan riuh saat gadis itu meniup lilin seusai
mengucapkan permohonan dalam hati. Meski gadis itu tak yakin permohonan apa yang
terucap dalam hatinya. Kue cokelat itu dibagi-bagikan, anak-anak kecil tertawa-tawa riang
saling mencolek krim cokelat itu, para orang dewasa menggumamkan pujian atas enaknya
kue itu. Saat orang-orang teralih perhatiannya pada kue cokelat mereka, gadis itu diam-diam
pergi dari pestanya dan mengunci dirinya di bilik kamar mandi. Air mata yang menggenang
itu meluncur tanpa izin ke pipinya, merusak hiasan gadis itu. Dia membiarkan air mata lain
ikut menyusul meluncur pelan ke pipinya.
Gadis itu menangis dengan isak tertahan. Hatinya dipenuhi perasaan takut. Takut akan
dunia dewasa yang menantinya di depan. Takut akan tanggung jawab besar yang akan dia
emban. Takut akan harapan dan ekspektasi orang tua yang membebani pundak kecilnya.
Takut karena dia merasa belum membanggakan orang tuanya yang kian menua. Dan takut
akan realita keras yang akan menamparnya. Gadis itu merasa belum cukup kuat menghadapi
semua itu. Dia sedang tidak baik-baik saja dengan pikiran-pikiran dan ketakutan-ketakutan
yang mengerubunginya.
Saat gadis itu mendongak menatap cermin, wajahnya terlihat mengeluarkan retakan dari
jejak air matanya. Retakan itu semakin melebar dan riasan wajah gadis itu meluncur terjatuh
mengenai wastafel dan hancur berkeping-keping. Gadis itu mendongak kembali, dan
wajahnya yang terpatri di cermin menunjukkan wajah sesosok gadis kecil. Wajah pucat
bertaburkan hiasan telah hilang sepenuhnya, dan mata merahnya sehabis menangis berubah
menjadi binar polos mata seorang gadis kecil yang bersemangat di hari ulang tahunnya yang
ke 10. Figurnya yang berbayang di cermin telah berubah sepenuhnya menjadi gadis berumur
10 tahun.
Gadis kecil itu berkali-kali tertawa dan melompat-lompat, sedang berbahagia karena
umurnya telah menginjak usia 10 tahun. Ibunya berjanji jika umurnya sudah menginjak 10
tahun, gadis kecil itu boleh bermain bersama teman-temannya sedikit lebih larut dan
melewatkan tidur siangnya. Ayahnya juga menjanjikan sepeda roda dua untuk kado ulang
tahunnya. Gadis itu akhirnya tersadar, bahwa bayangan yang dilihatnya di cermin adalah
dirinya 10 tahun yang lalu.
Gadis kecil itu mengerling menatap cermin, dan tersenyum lepas seolah sadar sedang
diperhatikan oleh dirinya dari 10 tahun kemudian. Gadis kecil itu tak sabar menantikan masa
depan apa yang menunggunya 10 tahun kemudian. Dia yakin ada banyak hal-hal besar yang
menunggunya. Dan dia sangat bangga melihat dirinya telah berhasil tumbuh dengan
pencapaian yang dimilikinya. Gadis itu tersentak kaget, dan pantulan di cermin sudah
berubah kembali menjadi dirinya yang sekarang. Perasaan cemas tak keruan yang bercokol
dalam dirinya anehnya telah menghilang, bersamaan dengan air matanya. Dadanya kini
hangat oleh harapan dan keyakinan. Keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja. Keyakinan
yang diinginkan oleh dirinya 10 tahun yang lalu, bahwa dia akan banyak bertemu dengan hal-
hal besar dan baru ke depannya. Dan bahwa dia akan banyak belajar dari hal-hal tersebut.
Ingar-bingar para orang-orang diluar masuk ke telinga gadis itu, dan dia yakin orang-orang
mulai mencarinya karena pemeran utama pesta tiba-tiba menghilang.
Ya, tidak apa-apa, gadis itu meyakinkan dirinya sendiri. Dengan langkah mantap, dia
kembali masuk ke pestanya dengan perasaan jauh lebih ringan. Tidak apa-apa merasa tidak
baik-baik saja sekarang. Tidak apa-apa merasa takut dan lelah sekarang. Namun gadis itu
tetap ingat, masa depan yang penuh hal-hal besar dan kejutan sedang menantinya untuk
didatangi.
Kuning
oleh Zafira Fayya
Beribu saat dalam kenangan mencuat berantakan, kelebatnya
melecut warna-warni perasaan — bernanah-nanah mendarah
dan merintih-rintih perih. Ada yang berdebar mengisi
ricuhnya ruangan: tik-tok jam dinding, detik-detik
kritis, juga degup jantung kita berpesta pora tak karuan.
Di luar: kita pandang sore begitu renta, sementara
matahari bertengger setia pada pucuk-pucuk pepohonan.
Menguning cuaca dan kibaran bendera atas nama
perasaanku. Kata-kata jelma daun-daun kerontang yang
segera disanggit angin dan tak sampai pada pelataran —
atau pada siapapun.
Kita sepenuhnya tersesat sewaktu barat memanjangkan
bayang-bayang menuju atap ruang, sewaktu cinta membuat
kita terpencil dalam sekat, dan penciumanku tak lagi
menghidu bau tubuh kinasihmu.
Kumandang magrib memulangkan burung dan anakan
layangan. Langit lebam, begitu juga sepasang pipimu,
atau telapak tanganku — atau kita? Telah berpulang
kenang-kenang dalam kening yang senang dan yang bikin
pening. Telah berpulang aku dan kamu kepada yang bukan
kita, yang amat asing dan penuh denging.
.png)

0 komentar